Jumat, 28 Februari 2014

peace



I.                   PENDAHULUAN
Islam dewasa ini menjadi agama yang paling banyak diperdebatkan. Sebagian orang berfikir, islam mencetak fanatisme dan kekerasan. Sebagian orang yang lain menegaskan bahwa islam adalah agama damai dan memiliki daya pikat spiritual yang dalam. Banyak orang beranggapan bahwa islam adalah agama pendorong teror, dan sementara pada pihak lain tidak kurang banyaknya orang meyakini islam sebagai agama yang memberi ketenangan batin dan kearifan. Orang-orang merasa islam sebagai agama yang tidak mengizinkan perubahan,status gua, dan mempertahankan tradisi abad pertengahan. Sedang beberapa orang lainnya melihat islam sebagai agama keadilan, emansipasi, persamaan hak, dan agama yang paling bisa didekati dengan kemajuan (paling modern).
Lantas kesimpulannya, setiap orang melihat islam dari sudut yang diinginkannya. Tidak diragukan lagi, terdapat sejumlah pendekatan islam yang berbeda-beda dan orang berusaha melihat refleksi pendekatan dirinya dalam islam. Namun, jika kita menelusuri teks-teks Qur’an, tidak akan ditemukan dukungan untuk anggapan status gua tersebut.[1]
                                                                                       
II.                RUMUSAN MASALAH
A.    Pengertian pendidikan damai dalam islam?
B.     Penjelaskan tentang islam dan ajaran damai?

III.             PEMBAHASAN
A.    Pengertian pendidikan damai dalam islam
Pendidikan dalam islam yaitu suatu proses bimbingan dari pendidik terhadap perkembangan jasmani, rohani, dan akal peserta didik ke arah terbentuknya pribadi muslim yang baik. Karena ia merupakan sebagai alat yang dapat di fungsikan untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia (sebagai makhluk pribadi dan sosial) kepada titik optimal kemampuannya untuk memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.
Dari berbagai pengertian pendidikan islam dapat kita simpulkan bahwa pendidikan islam adalah proses bimbingan dari pendidik yang mengarahkan anak didiknya kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan dan terbentuknya pribadi muslim yang baik.[2]
Pendidikan perdamaian adalah pendidikan budaya, pengembangan karakter, dan metanoia diri pribadi dan masyarakat sehingga nilai-nilai seperti integrasi, tenggang rasa, salaing menghargai, menghormati dan melihat konflik sebagai yang positip dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan perdamaian , barulah menjadi suatu yang penting dan mendesak setelah terjadi konflik social  dan politik. Fakta ini terjadi di beberapa wilayah di Indonesia antara lain Ambon dan Aceh. Namun demikian, respon akan kemendesakan itu tidak datang dari wilayah pembuat kebijakan dalam hal ini pemerintah.
pendidikan perdamaian seharusnya menjadi sesuatu yang mendesak. Menjadi suatu yang mendesak lantaran:
a)    pendidikan perdamaian dapat dijadikan medium pemulihan trauma yang paling efektif. Dalam pendidikan perdamaian, konflik diangkat ke permukaan untuk didiskusikan dan dipahami sebagai sesuatu yang harus dilewati dan dialami manusia. Konflik dengan sengaja di angkat tidak dimaksudkan supaya menambah beban luka dan trauma, tetapi dimampukan untuk menjadi medan pembelajaran, perjumpaan untuk diakrabi dan dimaknai.
b)     pendidikan perdamaian menjadi penting lantaran para peserta didik dimampukan untuk memahami strategi menghadapi dan bahkan cara menyelesaikan konflik dan masalah. Baik konflik dengan diri sendiri, diri sendiri dengan orang lain maupun antara komunitas yang satu dengan komunitas yang lain. Sistem negosiasi, membangun kepercayaan, kerjasama/integrasi, dan menang sama menang ditumbuh-kembangkan dan ditular-ajarkan agar dengan demikian dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
c)    pendidikan perdamaian menjadi penting untuk ditular-ajarkan kepada generasi muda karena generasi muda merupakan tulang punggung pembangunan perdamaian yang berkelanjutan.  Generasi muda harus diberi bekal yang memadai tentang semua tema perdamaian agar karakter dan jati dirinya sebagai ‘pembawa damai’ membekas dalam jejak perjalanan kehidupan mereka.[3]
B.     Penjelasan tentang islam dan ajaran islam
Munculnya beragam gerakan jihad di dunia islam memberikan kesan seakan-akan islam mewajibkan pemeluknya untuk berperang dalm menyelesaikan semua problem; dan terkesan islan menolak keras perdamaian dengan mempercayai hanya akan memperkuat hegemoni kekuatan non-islam. Media di seluruh penjuru dunia juga mengkaitkan islam dengan kekerasan. Perlu dicatat disini bahwasanya media lebih tertarik dengan laporan negatif dan sensasional, berita-berita utama berkisar seputar gerakan kekerasan dan pernyataan dari sejumlah tokoh muslim, kendati sangat sedikit, yang mengobarkan jihat ini.
Mereka, pemimpin ini, memiliki pemahaman terbatas tentang islam ataupun mempunyai kepentingan pribadi besar dengan mengangkat senjata-atas nama islam-untuk mempromosikan dan melegitimasikan aksi-aksi mereka lewat Qur’an dan Hadits. Media telah menciptakan istilah “jihad islam”, yang didengung-dengungkan berulang-ulang. Sangat disesalkan bahwa ada sekelompok militan menggunakan istilah jihad untuk konflik teritoriel, umpamunya, kashmir. Mereka membunuhi orang tidak berdosa demi keuntungan politis dan membungkusnya dalam jihad. Pembunuhan kejam seperti itu sudah pasti berdampak tidak baik. Apalagi orang lain, bahkan muslim sekalipun yang berfikir sehat mengutuk aksi tersebut sebagai tidak manusiawi dan sangat tidak islami.
Sepanjang menurut Qur’an, sesungguhnya konsep jihad tidak ada hubungannyadengan pengertian berperang sama sekali. Pada masa akhir ini penggunaan istilah tersebut menjaditidak sesuai dengan harapan kita. Sungguh disesalkan, bukan hanya non muslim, bahkan muslim pada umumnya berfikir bahwa kewajiban muslim untuk berjihad-dalam pengertian berperang-di jalan Allah.
Kata “jihad” berasal dari akar ja-ha-da, berarti menggunakan, usaha, dan mempergunakan kemampuan seseorang. Begitu juga kata “juhud” berarti kemampuan, kekuasaan, kekuatan, dan usaha keras atau usaha kuat. Dari sini kata “jihad” berasal, digunakan untuk segala usaha keras guna menterjemahkan ajaran islam, atau upaya kreatif yang kuat untuk mengaplikasikan ajaran islam dalam situasi baru.
Kata “jahadu” diayat ini berarti “perang”, maka tidak akan diikuti dengan kata “dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”.
Ayat Qur’an penting lainnya yang terkait, yaitu Q.S.9:24, “katakanlah: ‘ jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cinta daripada Allah dan Rasulnya dan ( dari) berjihad di jalanya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.
Ayat ini menggunakan kata jihad juga bereti berjuang, bekerja keras, berusaha sekuat tenaga demi Allah dengan segala kekayaan dan segala sesuatu miliknya. Seseorang harus bersedia berkorban seluruh kepentingannya untuk mempertinggi niat lebih agung dalam hidup, sebelum segala sesuatu menjadi tidak barati. Q.S.25:52, menjelaskan:
“ maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur’an dengan jihad yang besar”.[4]

IV.             KESIMPULAN
Pendidikan dalam islam yaitu suatu proses bimbingan dari pendidik terhadap perkembangan jasmani, rohani, dan akal peserta didik ke arah terbentuknya pribadi muslim yang baik. Karena ia merupakan sebagai alat yang dapat di fungsikan untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia (sebagai makhluk pribadi dan sosial) kepada titik optimal kemampuannya untuk memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. pendidikan perdamaian seharusnya menjadi sesuatu yang mendesak. Menjadi suatu yang mendesak lantaran:
a)    pendidikan perdamaian dapat dijadikan medium pemulihan trauma yang paling efektif. Dalam pendidikan perdamaian, konflik diangkat ke permukaan untuk didiskusikan dan dipahami sebagai sesuatu yang harus dilewati dan dialami manusia. Konflik dengan sengaja di angkat tidak dimaksudkan supaya menambah beban luka dan trauma, tetapi dimampukan untuk menjadi medan pembelajaran, perjumpaan untuk diakrabi dan dimaknai.
b)    pendidikan perdamaian menjadi penting lantaran para peserta didik dimampukan untuk memahami strategi menghadapi dan bahkan cara menyelesaikan konflik dan masalah. Baik konflik dengan diri sendiri, diri sendiri dengan orang lain maupun antara komunitas yang satu dengan komunitas yang lain. Sistem negosiasi, membangun kepercayaan, kerjasama/integrasi, dan menang sama menang ditumbuh-kembangkan dan ditular-ajarkan agar dengan demikian dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
c)    pendidikan perdamaian menjadi penting untuk ditular-ajarkan kepada generasi muda karena generasi muda merupakan tulang punggung pembangunan perdamaian yang berkelanjutan.  Generasi muda harus diberi bekal yang memadai tentang semua tema perdamaian agar karakter dan jati dirinya sebagai ‘pembawa damai’ membekas dalam jejak perjalanan kehidupan mereka.











V.                PENUTUP
Demikian makalah ini saya susun. Saya sadar bahwa banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan penulisan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan penulis khususnya terima kasih.














[1] Asghar ali engineer, membangun teologi islam, yogyakarta: ngentak, sleman. 2004.hlm.2-3
[2] Dr.H. fatah syukur Nc, M.ag, sejarah pendidikan islam, semarang: pustaka rizki putra,2012.hlm.2-3
[3] http://www .wikimu. com/news/displaynews. Aspx?id=18099
[4] Asghar ali engineer, membangun teologi islam, yogyakarta: ngentak, sleman. 2004.hlm.6-9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar