I.
PENDAHULUAN
Islam dewasa ini menjadi agama yang paling banyak diperdebatkan.
Sebagian orang berfikir, islam mencetak fanatisme dan kekerasan. Sebagian orang
yang lain menegaskan bahwa islam adalah agama damai dan memiliki daya pikat
spiritual yang dalam. Banyak orang beranggapan bahwa islam adalah agama
pendorong teror, dan sementara pada pihak lain tidak kurang banyaknya orang
meyakini islam sebagai agama yang memberi ketenangan batin dan kearifan.
Orang-orang merasa islam sebagai agama yang tidak mengizinkan perubahan,status
gua, dan mempertahankan tradisi abad pertengahan. Sedang beberapa orang lainnya
melihat islam sebagai agama keadilan, emansipasi, persamaan hak, dan agama yang
paling bisa didekati dengan kemajuan (paling modern).
Lantas kesimpulannya, setiap orang melihat islam dari sudut yang
diinginkannya. Tidak diragukan lagi, terdapat sejumlah pendekatan islam yang
berbeda-beda dan orang berusaha melihat refleksi pendekatan dirinya dalam
islam. Namun, jika kita menelusuri teks-teks Qur’an, tidak akan ditemukan
dukungan untuk anggapan status gua tersebut.[1]
II.
RUMUSAN
MASALAH
A.
Pengertian
pendidikan damai dalam islam?
B.
Penjelaskan
tentang islam dan ajaran damai?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
pendidikan damai dalam islam
Pendidikan dalam islam yaitu suatu proses bimbingan dari pendidik
terhadap perkembangan jasmani, rohani, dan akal peserta didik ke arah
terbentuknya pribadi muslim yang baik. Karena ia merupakan sebagai alat yang
dapat di fungsikan untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia
(sebagai makhluk pribadi dan sosial) kepada titik optimal kemampuannya untuk
memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.
Dari berbagai pengertian pendidikan islam dapat kita simpulkan
bahwa pendidikan islam adalah proses bimbingan dari pendidik yang mengarahkan
anak didiknya kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal
perbuatan dan terbentuknya pribadi muslim yang baik.[2]
Pendidikan perdamaian adalah pendidikan budaya, pengembangan
karakter, dan metanoia diri pribadi dan masyarakat sehingga nilai-nilai seperti
integrasi, tenggang rasa, salaing menghargai, menghormati dan melihat konflik
sebagai yang positip dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan perdamaian , barulah menjadi suatu yang penting dan
mendesak setelah terjadi konflik social dan politik. Fakta ini terjadi di
beberapa wilayah di Indonesia antara lain Ambon dan Aceh. Namun demikian,
respon akan kemendesakan itu tidak datang dari wilayah pembuat kebijakan dalam
hal ini pemerintah.
pendidikan perdamaian seharusnya menjadi sesuatu yang mendesak.
Menjadi suatu yang mendesak lantaran:
a)
pendidikan
perdamaian dapat dijadikan medium pemulihan trauma yang paling efektif. Dalam
pendidikan perdamaian, konflik diangkat ke permukaan untuk didiskusikan dan
dipahami sebagai sesuatu yang harus dilewati dan dialami manusia.
Konflik dengan sengaja di angkat tidak dimaksudkan supaya menambah beban
luka dan trauma, tetapi dimampukan untuk menjadi medan pembelajaran, perjumpaan
untuk diakrabi dan dimaknai.
b)
pendidikan perdamaian menjadi penting lantaran
para peserta didik dimampukan untuk memahami strategi menghadapi dan bahkan
cara menyelesaikan konflik dan masalah. Baik konflik dengan diri sendiri, diri
sendiri dengan orang lain maupun antara komunitas yang satu dengan komunitas
yang lain. Sistem negosiasi, membangun kepercayaan, kerjasama/integrasi, dan
menang sama menang ditumbuh-kembangkan dan ditular-ajarkan agar dengan demikian
dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
c)
pendidikan
perdamaian menjadi penting untuk ditular-ajarkan kepada generasi muda karena
generasi muda merupakan tulang punggung pembangunan perdamaian yang
berkelanjutan. Generasi muda harus diberi bekal yang memadai tentang
semua tema perdamaian agar karakter dan jati dirinya sebagai ‘pembawa damai’
membekas dalam jejak perjalanan kehidupan mereka.[3]
B.
Penjelasan
tentang islam dan ajaran islam
Munculnya beragam gerakan jihad di dunia islam memberikan kesan
seakan-akan islam mewajibkan pemeluknya untuk berperang dalm menyelesaikan
semua problem; dan terkesan islan menolak keras perdamaian dengan mempercayai
hanya akan memperkuat hegemoni kekuatan non-islam. Media di seluruh penjuru
dunia juga mengkaitkan islam dengan kekerasan. Perlu dicatat disini bahwasanya
media lebih tertarik dengan laporan negatif dan sensasional, berita-berita
utama berkisar seputar gerakan kekerasan dan pernyataan dari sejumlah tokoh
muslim, kendati sangat sedikit, yang mengobarkan jihat ini.
Mereka, pemimpin ini, memiliki pemahaman terbatas tentang islam
ataupun mempunyai kepentingan pribadi besar dengan mengangkat senjata-atas nama
islam-untuk mempromosikan dan melegitimasikan aksi-aksi mereka lewat Qur’an dan
Hadits. Media telah menciptakan istilah “jihad islam”, yang
didengung-dengungkan berulang-ulang. Sangat disesalkan bahwa ada sekelompok
militan menggunakan istilah jihad untuk konflik teritoriel, umpamunya, kashmir.
Mereka membunuhi orang tidak berdosa demi keuntungan politis dan membungkusnya
dalam jihad. Pembunuhan kejam seperti itu sudah pasti berdampak tidak baik. Apalagi
orang lain, bahkan muslim sekalipun yang berfikir sehat mengutuk aksi tersebut
sebagai tidak manusiawi dan sangat tidak islami.
Sepanjang menurut Qur’an, sesungguhnya konsep jihad tidak ada
hubungannyadengan pengertian berperang sama sekali. Pada masa akhir ini
penggunaan istilah tersebut menjaditidak sesuai dengan harapan kita. Sungguh
disesalkan, bukan hanya non muslim, bahkan muslim pada umumnya berfikir bahwa
kewajiban muslim untuk berjihad-dalam pengertian berperang-di jalan Allah.
Kata “jihad” berasal dari akar ja-ha-da, berarti menggunakan,
usaha, dan mempergunakan kemampuan seseorang. Begitu juga kata “juhud” berarti
kemampuan, kekuasaan, kekuatan, dan usaha keras atau usaha kuat. Dari sini kata
“jihad” berasal, digunakan untuk segala usaha keras guna menterjemahkan ajaran
islam, atau upaya kreatif yang kuat untuk mengaplikasikan ajaran islam dalam
situasi baru.
Kata “jahadu” diayat ini berarti “perang”, maka tidak akan diikuti
dengan kata “dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu
kesempitan”.
Ayat Qur’an penting lainnya yang terkait, yaitu Q.S.9:24, “katakanlah:
‘ jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu,
harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya,
dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cinta
daripada Allah dan Rasulnya dan ( dari) berjihad di jalanya, maka tunggulah
sampai Allah mendatangkan keputusannya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang fasik”.
Ayat ini menggunakan kata jihad juga bereti berjuang, bekerja
keras, berusaha sekuat tenaga demi Allah dengan segala kekayaan dan segala
sesuatu miliknya. Seseorang harus bersedia berkorban seluruh kepentingannya
untuk mempertinggi niat lebih agung dalam hidup, sebelum segala sesuatu menjadi
tidak barati. Q.S.25:52, menjelaskan:
“ maka
janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka
dengan Al Qur’an dengan jihad yang besar”.[4]
IV.
KESIMPULAN
Pendidikan dalam islam yaitu suatu proses bimbingan dari pendidik
terhadap perkembangan jasmani, rohani, dan akal peserta didik ke arah
terbentuknya pribadi muslim yang baik. Karena ia merupakan sebagai alat yang
dapat di fungsikan untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia
(sebagai makhluk pribadi dan sosial) kepada titik optimal kemampuannya untuk
memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. pendidikan perdamaian
seharusnya menjadi sesuatu yang mendesak. Menjadi suatu yang mendesak lantaran:
a) pendidikan perdamaian dapat dijadikan medium
pemulihan trauma yang paling efektif. Dalam pendidikan perdamaian, konflik
diangkat ke permukaan untuk didiskusikan dan dipahami sebagai sesuatu yang
harus dilewati dan dialami manusia. Konflik dengan sengaja di angkat tidak
dimaksudkan supaya menambah beban luka dan trauma, tetapi dimampukan untuk
menjadi medan pembelajaran, perjumpaan untuk diakrabi dan dimaknai.
b)
pendidikan perdamaian menjadi penting lantaran
para peserta didik dimampukan untuk memahami strategi menghadapi dan bahkan
cara menyelesaikan konflik dan masalah. Baik konflik dengan diri sendiri, diri
sendiri dengan orang lain maupun antara komunitas yang satu dengan komunitas
yang lain. Sistem negosiasi, membangun kepercayaan, kerjasama/integrasi, dan
menang sama menang ditumbuh-kembangkan dan ditular-ajarkan agar dengan demikian
dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
c)
pendidikan
perdamaian menjadi penting untuk ditular-ajarkan kepada generasi muda karena
generasi muda merupakan tulang punggung pembangunan perdamaian yang
berkelanjutan. Generasi muda harus diberi bekal yang memadai tentang
semua tema perdamaian agar karakter dan jati dirinya sebagai ‘pembawa damai’
membekas dalam jejak perjalanan kehidupan mereka.
V.
PENUTUP
Demikian makalah ini saya susun. Saya sadar bahwa banyak kekurangan
dalam penulisan makalah ini. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan
demi kesempurnaan penulisan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat
bagi pembaca dan penulis khususnya terima kasih.
[1] Asghar ali engineer, membangun teologi islam, yogyakarta:
ngentak, sleman. 2004.hlm.2-3
[2] Dr.H. fatah syukur Nc, M.ag, sejarah pendidikan islam,
semarang: pustaka rizki putra,2012.hlm.2-3
[3] http://www
.wikimu. com/news/displaynews. Aspx?id=18099
[4] Asghar ali engineer, membangun teologi islam, yogyakarta:
ngentak, sleman. 2004.hlm.6-9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar