MOTIF SOSIAL
Motif
adalah sesuatu yang ada pada diri individu yang menggerakkan atau
membangkitkkan sehingga individu itu berbuat sesuatu.
- Lindgren (1073) berpendapat bahwa : Motif sosial adalah motif yang dipelajari melalui kontak orang lain bahwa lingkungan individu memegang peranan yang penting.
- Berkowitz (1969) Motif sosial adalah motif yang mendaasari aktivitas individu dalam mereaksi terhadap orang lain.
- Max Crimon dan Messick (1976) menyatakan bahwa seseorang dikatakan menunjukkan motif sosial, jika ia dalam membuat pilihan memperhitungkan akibatnya bagi orang lain.
- Heckhausen (1980) berpendapat bahwa motif sosial adalah motif yang menunjukkan bahwa tujuan yang ingin dicapai mempunyai interaksi dengan orang lain.
Motif timbul karena adanya kebutuhan/need. Kebutuhan (need) dapat dipandang
sebagai kekurangan adanya sesuatu, dan ini menuntut segera pemenuhannya, agar
segera mendapatkan keseimbangan. Situasi kekurangan ini berfungsi sebagai suatu
kekuatan atau dorongan alasan, yang menyebabkan seseorang bertindak untuk
memnuhi kebutuhan.
Kebutuhan (need) =====
Motive ======= Perilaku
1.
Makanan
1.
Lapar
1. Makan
2. Oksigen
2.
Sesak nafas 2. bernafas
3. Air
3. Haus
3. Minum
Mc. Clelland (1967) berpendapat bahwa untuk menemukan motif yang
mendasari suatu perbuatan, cara yang terbaik ialah dengan menganalisis motif
yang ada di dalam fantasi seseorang. Word Wort dan Marquis membedakan motif
atas :
- Motif yang bergantung pada keadaan dalam jasmani, misalnya : makan, minum dan sebagainya.
- Motif yang tergantung hubungan individu dengan lingkungan :
- Emergency motif/ motif darurat Ini adalah motif yang membutuhkan tindakan segera : untuk melepas diri dari bahaya.
- Objective motif / motif objektif. Motif yang brhubungan langsung dengan lingkungan baik berupa individu maupun benda : penghargaan, memiliki mobil, memiliki rumah bagus dsb.
Sherif and sherif berpendapat motif timbul karena adanya kebutuhan yang
mempunyai hubungan kausal. Maka sherif membedakan moeitf atas :
- Biogenic Motive (motive biogenetis) Motif yang berasal dari kebutuhan biologis sebagai makhluk yang hidup. Motif ini berkembang dengan sendirinya di dalam diri individu dan terdapat didalam lingkungan pada internal.
- Sociogenic motives (motive sosiogenetis) Motif ini timbul di dalam diri individu karena interaksi dengan orang lain atau dengan lingkungan sosial.
B. Macam-macam
Motif
- Motif biogenetis Merupakan motif yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan organisme orang demi kehidupannya secara biologis. Motif ini bercorak kepada universal dan kurang terikat kepada lingkungan kebudayaan tempat manusia itu kebetulan tempat berada dan berkembang.
- Motif sosiogenetis Adalah motif-motif yang dipelajari orang fan berasal dari lingkungan kebudayaan tempat orang itu berada dan berkembang.
- Motif teogenetis Berasal dari interaksi antara manusia deangan Tuhan seperti yang nyata dalam ibadahnya dan dalam kehidupannya sehari-hari dimana ia berusaha merealisasi norma-norma agama tertentu. Contoh, keinginginan untuk mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.
C. Beberapa Cara
Memotivasi Orang Lain
Menurut Strain, North,
Chapman, 1973
- Memotivasi dengan kekerasan / motivating by force berupa ancaman dll
- Motivasi dengan bujukan / motivating by enticement berupa hadiah dll
- Memotivasi dengan identifikasi / motivating by identivication or Ego – Involvement, ini merupakan cara memotivasi orang lain yang terbaik. Mereka berbuat sesuatu dengan suatu rasa percaya diri bahwa apa yang dilakukan itu adalah untuk mencapai tujuan tertentu, ada keinginan dari dalam
Berbagai motif sosial Teevan dan Smith (1964) menggolongkan motif atau dasar perkembangan
menjadi 2 kelompok yaitu :
- Motif primer yaitu motif yang timbulnya berdasarkan proses kimiawi fisiologik dan diperoleh dengan tidak dipelajari, misalnya haus dan lapar.
- Motif sekunder adalah motif yang timbulnya tidak secara langsung berdasarkan proses kimiawi fisiologik dan umumnya diperoleh dari proses belajar, baik melalui pengalaman maupun lingkungan. Motif sekunder ini adalah motif berprestasi, motif berafiliasi, motif berkuasa.
Motif sekunder inilah yang disebut sebagai meoptif sosial oleh Teevan
dan Smith dan pendapat ini diikuti oleh Lindgren (1973), Sanders (1976) serta
Brody (1980). Sedangkan Veroff (1979), selain ketiga motif tersebut ada motif
lain yang termasuk ke dalam motif sosial anatara lain motif integritas. Faktor-faktor
yang mempengaruhi motif sosial Teevan dan Smith mengemukakan adanya 4 sumber perkembangan motif sosial
yaitu :
- Interaksi ibu dan anak
- Interaksi anak dengan seluruh keluarga
- Interaksi anak dengan masyarakat luas
- Pendidikan formal.
La Vine (1977) mengatakan bahwa kebudayaan dalam masyarakat yang
berupa kebiasaan akan mempengaruhi motif sosial. Sedangkan Murray (1964)
mengatakan bahwa motif sosial sangat dipengaruhi oleh cara-cara mengasuh anak.
PRASANGKA SOSIAL
A.
Pengertian prasangka
Prasangka merupakan
evaluasi kelompok atau seseorang yang mendasarkan diri pada keanggotaan dimana
seorang tersebut menjadi anggotanya, prasangka merupakan evaluasi negative
terhadap outgroup. Prasangka
sosial merupakan sikap perasaan orang-orang terhadap golongan manusia tertentu,
golongan , ras, atau kebudayaan yang berlainan dengan golongan orang yang
berprasangka itu. Prasangka sosial yang terdiri dari attitude-attitude social yang negative terhadap golongan lain,
dan mempengaruhi tingkah lakunya terhadap golongan manusia lain tadi.
Awal mulanya prasangka
hanya berupa sikap-sikap perasaan negative tetapi lambat laun akan dinyatakan
dalam bentuk tindakan yang diskriminatif terhadap orang yang diprasangkai itu
tanpa alasan yang objektif pada orang yang dikenai tindakan-tindakan yang
diskriminatif.
Prasangka sangat
berkaitan dengan persepsi seseorang atau kelompok lain, dan sikap serta
perilakunya terhadap mereka. Prasangka terhadap anggota suatu kelompok ternyata
sangat merusak. Sebuah contoh mengenai prasangka sosial ialah attitude orang Jermanterhadap keturunan
orang-orang Yahudi di Negaranya yang sudah lama terdapat di masyarakat
masyarakat Jerman. Satu contoh lagi seperti di Amerika Serikat, di sana
terdapat prasangka social terhadap golongan Negro atau golongan kulit hitam
terutama di Amerika bagian selatan. Dari prasangka social tersebut keduanya
sama-sama melahirkan tindakan-tindakan diskriminatif terhadap masing-masing
pihak yang diprasangkai. Bahwasanya tindakan-tindakan diskriminatif yang berdasarkan
prasangka social akan merugikan masyarakat
Negara itu sendiri, Sebab perkembangan
potensi-potensi manusia masyarakat tersebut akan sangat diperhambat.
B.
Teori-teori tentang
prasangka
1. Teori belajar sosial
Teori belajar sosial
merupakan salah satu teori dalam belajar, teori ini dikemukakan oleh bandura
yang berpendapat bahwa belajar itu terjadi melalui model atau contoh. Prasangka
seperti halnya sikap, merupakan hal yang terbentuk melalui proses belajar.
Attitude-attitude yang
dimiliki manusia tidaklah dibawa sejak ia dilahirkan. Tetapi bermacam attitude
itu dipelajari dan terbentuk pada manusia selama perkembangannya. Awalnya
anak-anak kecil tidak mempunyai attude-attitude, kemudian mereka memperoehnya
untuk yang pertama melalui primary group yaitu orang tua dan keluarganya.
Demikian pula dengan prasangka social, Prasangka social juga tidak dibawa
manusia sejak manusia dilahirkan. Prasangka social juga terbentuk selama
perkembangan manusia, baik dari didikan atau pun dengan cara identifikasi dengan
orang lain yang sudah berprasangka.
Teori belajar social
memandang prasangka sebagai sesuatu yang
dipelajari dengan cara yang sama,
seperti bila orang mempelajari
nilai-nilai social yang lain; prasangka disebarluaskan dari orang yang
satu ke orang yang lain sebagai bagian
dari sejumlah norma. Prasangka merupakan
norma dalam budaya atau sub budaya seseorang. Prasangka diperoleh seorang anak
melalui sosialisasi. Anak mempelajari sikap berprasangka untuk dapat diterima
oleh orang lain. Terakhir, penyebar
luasan dan pengungkapan prasangka yang
terus-menerus akan memperkuat peranannya sebagai norma budaya ( Ashmore &
Delboca, 1980)
2.
Teori Motivasional atau Decision Making Theory
Teori ini memandang
prasangka sebagai sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan individu atau elompok
untuk mencapai kesejahteraan (satisfy). Teori ini mencakup beberapa
teori yaitu;
a.
Pendekatan psikodinamika
Teori ini menganalisis prasangka sebagai suatu usaha untuk mengatasi
tekanan motivasi yang ada dalam diri
individu yang bersangkutan. Jadi teori ini menekankan pada dinamika dari
pribadi individu yang bersangkutan (specific individual personality).
b. Konflik Kelompok Realitas (Realistic group conflict)
Konflik kelompok realitas. Teoeri ini menyatakan bahwa dua kelompok
bersaing merebutkan kelompok yang langka, mereka akan saling mengancam, dan
akhirnya menimbulkan permusuhan diantara mereka sehingga menciptakan nilai
negative yang bersifat timbal balik.
Konflik antar kelompok akan terjadi apabila kelompok-kelompok tersebut
dalam keadaan berkompetisi. Ini menyebabkan
adanya permusuhan antara kedua kelompok tersebut yang kemudian bermuara
pada adanya saling berprasangka satu dengan yang lain, saling memberikan
evalauasi yang negatif. Dengan demikian, prasangka tidak dapat dihindarkan
sebagai akibat adanya konflik yang nyata antara kelompok yang satu dengan yang
lain.
c.
Kekurangan Relatif (relative deprivation)
Teori ini berkaitan dengan ketidakpuasan yang tidak hanya timbul dari
kekurangan objektif , tetapi juga dari perasaan kurang secara subjektif yang
relative lebih besar dibandingkan orang lain atau kelompok lain.
Dalam konflik kelompok yang nyata, prasangka timbul sebagai respons
terhadap frustasi yang riil dalam kehidupan antara kelompok satu dengan yang
lain. Tetapi kadang-kadang orang mempersepsi diri sendiri atau mereka mengalami
kerugian secara relatif terhadap pihak lain, walaupun dalam kenyataanya tidak
demikian. Persepsi ini dapat membawa permusuhan antara kelompok yang satu dengan
yang lain, dan sebagai akibatnya yaitu dapat menimbulkan prasangka.
3.
Teori Kognitif
Dalam teori ini, proses
kognitif dijadikan sebagai dasar timbulnya prasangka. Hal ini berkaitan dengan;
a.
Kategorisasi atau penggolongan
Apabila seseorang
mempersepsi orang lain atau apabila suatu kelompok mempesepsi keompok lain, dan
memasukkan apa yang di persepsikan itu ke dalam suatu kategori tertentu. Proses
kategorisasi berdampak timbulnya prasangka antar pihak satu dengan pihak lain,
keompok satu denga kelompok lain.
b.
Ingroup lawan Outgroup
Ingroup dan outgroup
ada apabila kategorisasi “kita” dan
“mereka” telah ada, seseorang dalam
suatu kelompok akan merasa dirinya sebagai ingroup
dan orang lain sebagai outgroup. Dalam
kategori ingroup memiliki dampak tertentu yang ditimbulkan, di antaranya yaitu;
1. Similarity effect, anggota ingroup mempersepsi
anggota ingroup yang lain lebih
memiliki kesamaan apabila dibandingkan dengan anggota outgroup.
2. Favoritism effect, karena kategorisasi ingroup dan outgroup maka berdampak munculnya
anggapan bahwa ingroup lebih favorit
dari pada outgroup.
3. Outgroup homogenity
effect, bahwa seseorang dalam ingroup memandang outgroup lebih homogendaripada ingroup, baik dalam hal kepribadian
maupun hal yag lain.
3.
Usaha Mengatasi Prasangka
Langkah-langkah yang
bisa dilakukukan untuk mengatasi prasangka sehingga prasangka tersebut dapat
berkurang atau bahkan bisa dihilangkan, caranya sebagai berikut;
1.
Dengan cara mengadakan direct intergroup contact, seperti yang
dikemukakan oleh Allport yang
dikenal dengan teori kontak (contact theory). Kontak atau hubungan
secara langsung secara berkesinambungan atau berkelanjutan akan mengurangi
prasangka yang ada.
2.
Dengan cara mengadakan kerja sama atau cooperative interdependence, Anggota
suatu kelompok yang berprasangka
terhadap kelompok lain, diadakan
kerja untuk mencapai tujuan bersama,
mereka saling bergantung satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan bersama
tersebut, dengan demikian mereka saling berinteraksi satu sama lain. Sehingga
mereka tahu dengan tepat keadaan
sebenarnya satu sama lain kelompok. Sebenarnya prasangka timbulkarena
kurang adanya informasi yang jelas, deengan mengetahi keadaan yang sebenarnya
maka prasangka yang ada akan dapat berkurang atau bahkan sampai hilang.
4. Ciri Pribadi Orang Berprasangka
Menurut beberapa penyelidikan psikologi, terdapat beberapa ciri pribadi orang yang mempermudah bertahannya
prasangka social padanya, antara lain orang-orang yang berciri sebagai berikut;
a. tidak
toeransi
b. kurang mengenal aka dirinnya
sendiri
c. kurang
berdaya cipta
d. merasa tidak aman
e. memupuk khayalan-khayalan yang
agresif
Sumber:
Bimo
Walgito, Psikologi Sosial, (Yogyakarta, Cv. Andi Ofset, 2003)
W.A.
Gerungan, Psikologi Sosial, (Bandung, Refika Aditama, 2002)
David
O. Sears. Dkk, Psikologi Sosial, (Jakarta, Erlangga, 1994)