Jumat, 07 November 2014

tugas editorial IDEA



MENEPIS KERAGUAN
Oleh: Muhammad Shofwan Zaim
Manusia tak ada yang sempurna, keraguan pasti pernah ada pada diri setiap manusia, begitupun calon crew magang Lembaga Press Mahasiswa (LPM) Idea tahun angkatan 2014 khususnya kelompok 5. Pasca pra workshop, kita merasa ragu bahwasanya apakah nanti bisa membuat buletin bayangan atau gagal menyelesaikanya.
                Kita merasa punya tanggung jawab  untuk menyelesaikan membuat bulletin bayangan sebagai persyaratan  untuk bisa masuk LPM Idea. Dengan rasa tanggung jawab itulah kita menepis keraguan dan kompak menjalankan tugas masing-masing.
Berawal dari rapat pertama di samping gedung Kantor Lama (KL) kita mendapatkan ide yang nantinya menjadi dasar terselesaikanya bulletin bayangan. Ada tiga usulan nama bulletin, pertama dari saya (zaim) mengusulkan nama Emanasi dan menjelaskan arti serta tujuanya, ke dua yaitu Tri Anggel di usulkan oleh Ryan dan terahir Gamblang oleh Fazat. Dari ketiga usulan nama tadi ahirnya di sepakati bersama nama bulletin kelompok lima yaitu Emanasi yang artinya pancaran, tujuanya adalah Emanasi sebagai karya Mahasiswa nantinya harus mampu memancarkan ide kreatifitas, intelektual, serta ilmu yang bermanfaat kepada pembaca.
Tugas yang di rasa paling sulit yaitu menentukan tema, karna jujur dari ke empat anggota kelompok kita belum punya cukup pengalaman mengenai itu.  Setelah melalu perundingan panjang, mencurahkan segala fikiran serta bimbingan dari Penanggung Jawab (PJ) kelompok kita , ahirnya menyepakati tema bulletin bayangan kita adalah “EFEKTIFITAS PERPUSTAKAAN USHULUDDIN”.
Perpustakaan sebagai jantung kampus, sangat bagus sekali apabila kita bisa memaparkan kelebihan, kekurangan serta solusi yang di butuhkan. Untuk itu kita mencoba membahas tentang Efektifitas Perpustakaan Fakultas Ushuluddin. Ternyata benar setelah melakukan wawancara kepada ketua pengelola perpustakaan yaitu Ibu Swaibah rabo 5/11/14 beliau memaparkan tentang kelebihan dan kekurangan perpustakaan. Salah satu kekuranganya yaitu belum adanya buku filologi, padehal mata kuliyah filologi sudah ada sejak lama untuk mahasiswa Tafsir Hadist.
Solusi dari kurang lengkapnya fasilitas perpustakaan termasuk buku adalah perlunya sinergi antara mahasiswa dengan pengelola perpustakaan. Ibu suwaibah menuturkan dulu pernah mengadakan angket  yang isinya pertanyaan mengenai kebutuhan buku bagi mahasiswa . angket tersebut di sebarkan kepada mahasiswa husunya kerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), namun itu tidak berjalan sesuai tujuan. Untuk itu pihak pengelola perpustakaan mengucapkan terimakasih kepada kita jikalau mau berkerjasama untuk mencari solusi bagi kemajuan perpustakaan fakultas ushuluddin. (redaksi)
               

Rabu, 05 November 2014

Adam 31 meter


RESENSI
A  D  A  M         3  1     M  E  T  E  R



Oleh: Etika
Crew magang IDEA

Ternyata, tinggi adam 31 meter! Sebuah opini mencengangkan di tengah maraknya statement  perbedaan pandangan antara kaum naturalis dan para kreasionis yang dikemas oleh Bambang Tri dalam bukunya Adam 31 Meter. Dengan penyampaian tegas, lugas, dan cerdas, penulis mencoba menjelaskan secara eksplisit bagaimana ayat-ayat yang semula kita kira tidak memiliki korelasi apapun tentang evolusi, menjadi ayat emas dalam Al-Quran yang pro evolusi.
Terinspirasi oleh Mbah Syahid Kemadu, seorang kyai dari Kemadu Rembang, yang mengatakan jika tinggi adam sekitar 30an meter. Penulis yang notabene memang santri yang mencintai ilmu pengetahuan pun mulai melakukan kajian ilmiah untuk membenarkan asumsi beliau yang berasal dari hadits nabi tersebut. Mulai dari kajian-kajian sederhana tentang penafsiran Al-Quran dengan kaidah kenahwuan, sampai kajian eksplisit tentang fakta-fakta ilmiah yang mencengangkan. Semua diramu dengan bahasa yang mudah dipahami.
Pematahan teori evolusi Darwin yang menyatakan jika hominid (baca: manusia purba) merupakan leluhur manusia, serta penolakan teori kreasionis ala Harun Yahya yang menyatakan jika hominid tidak pernah ada. Dengan bukti otentik menggunakan dalil Al-Quran yang telah ditahsiskan dengan kaidah kebahasa araban.
Dalam salah satu kutipan, Bambang Tri menyatakan dengan tegas bahwa “bagaimanapun, Al-Quran tidak melarang kita meyakini ‘manusia’ purba sebagai pendahulu kita, tetapi tidak-seperti Darwin cs.-menganggap mereka leluhur kita”. setidaknya, dari kalimat tersebut kita sedikit banyak dapat menyimpulkan bahwasannya argumen yang menyatakan jika statement para naturalis kurang dapat dijajarkan  dengan statement keagamaan adalah suatu kesalahan besar.
Bukankah Al-Quran adalah mukjizat rasulullah sepanjang masa? Tentu bukan hal yang musykil jika dari fakta-fakta yang ditemukan manusia mengenai ras hominid, terdapat tanda tangan emas tuhan yang mengarah jika Al-Quran pro evolusi. Singkirkan debu-debu penafsiran konservatif yang karenanya, keilmiahan ayat-ayat emas itu menjadi samar. Sekarang saatnya kita membuka mata terhadap pembahasan kontemporer dengan fakta-fakta yang tidak dapat ditolak lagi kebenarannya.
Dalam kajian lain dalam buku ini, penulis turut pula menyinggung tentang kepemimpinan Fir’aun zaman Musa As. Benarkah Fir’aun Ramses yang selama ini kita yakini sebagai Fir’aun kejam pada zaman itu adalah raja yang tenggelam dilaut seperti dalam penjelasan Al-Quran? Apakah Tsunami penyebab tenggelamnya Fir’aun saat pengejaran terhadap Musa berlangsung? Dan benarkah statement bahwa Laut Merah adalah kejadian perkara dahsyat tersebut?
Buku ini menuntut kita untuk lebih membuka mata tentang fakta-fakta yang pada awalnya sangat sulit kita korelasikan dengan kejadian ilmiah dalam Al-Quran, ternyata mampu terpecahkan dengan bantuan ilmu pengetahuan modern. Bambang Tri memberi inspirasi kepada kita untuk mengubah paradigma tentang penafsiran Al-Quran. Bahwa fakta yang kita dapat sekarang, ternyata mampu dibuktikan dengan ayat-ayat-Nya. Dan bukan dengan sebaliknya. Wallahua’lambissawwab.



Minggu, 02 November 2014

menangkap malam

Menangkap Malam
Oleh: M Shofwan Zaim

Aku tak mau berhayal
Tentang sunyinya malam
Aku tak bisa berbohong
Ternyata aku nyaman dalam dekapan malam
Lebih baik aku terbenam
Dalam kegelapan yang menenangkan
Jikalau siang penuh cahaya
Ternyata memperlihatkan kemunafikan
Terangnya cahaya tak ubahnya mencolok mata
Menusuk hati
Membebani jiwa
Merusak jasmani
Aku tak mampu melihat terangnya kesewenang-wenangan
Aku tak mampu percaya pada ke angkuhan
Aku tak tega melihat penindasan
Aku bersedih
Membaca lontaran kata orang merintih
Itu semua aku tangkap dalam cahaya benderang
Dalam titik ketenangan sepertiga malam
Hatiku bangkit menatap senyuman
Di tengah para anak suci
Terbaring mulia
Di tempat surge pada masanya
Seolah hatiku berada di taman surga
Di taburi  bunga wangi nan mempesona
Aduhai cinta
Apakah ini
Kau menampakkan diri lewat suara malam
Dengan bahagia
Menenangkan jiwa lelah setelah seharian di tipu dunia
Apakah ini yang aku cari selama ini?
Kenapa ini baru terjadi
Setelah terlalu lama
Aku terlelap suasana kota seperti neraka
Senyuman buah mangga muda
Di depan serambi tiga bercahaya
Di depan dua lentera
Malam ini aku tak mau membaca
Sebelum aku temukan cerita
Di balik malam jelita
Aku tak tau kenapa asap yang kulihat
Tampak seperti cinta kita
Lekat akan cerita
Mungkin diriku berharap akan jejak telapak
Para penegak kemurnian
Aku rindu pada wajah polos
Anak pecinta yang di titipkan orang tuanya
Menyapa tuhan dengan tulus
Mencinta  manusia dengan menerima omongan manusia
Sungguh aku rindu itu
Ingin aku merasakan masa lalu
Ketika menangis tersendu-sendu
Ingin segera di pelukan orang tuaku
Itu
Ternyata sejenak
1 november 2014

Ponpes Darul Falah Kudus

asumsiku

ASUMSIKU
Oleh: Muhammad Shofwan Zaim
Butiran keringat yang kecil
Hinggap sementara dan berlalu
Adalah tuhan dalam asumsiku
Membalik keadaan masa
DUA BINTANG
Oleh: Muhammad Shofwan Zaim
Dua bintang menemaniku malam ini
Tak ada arti menghampiri
Semakin menjauh bintang kecil
Semakin nyata bintang besar
Barulah arti menghampiri
Hilanglah kau bintang kecil
Walau besar yang nyatapun
Esok juga akan binasa
Namun lebih lama dunia kan mengenang

MULA
Oleh: Muhammad Shofwan Zaim
Aku yang bermula tiada
Tumbuh menampakkan eksistensi
Melemah setelah melihat dunia
Merenung memahami tuk bangkit mengabadikanya


awal november

Awal November
Oleh: Muhammad Shofwan Zaim

Setiap kali aku bangun,  tentang apa yang akan memberi  hidup, adalah hal pertama dalam fikiranku. Seperti pagi ini, aku ingat tadi malam yang memberi  aku pelajaran akan banyaknya orang yang berebut kekuasaan. Aku heran pada kebanyakan orang termasuk diriku yang belajar akan bagaimana meraih kedudukan, walau aku tak kan melakukan dan tak  berminat pada kedudukan tersebut.
Sepertinya Negara ini terjangkit akan penyakit miskinya pemimpin baik, itu mengakibatkan setiap anak yang baru lahir dari rahim ibundanya menatap cita-cita untuk berkuasa agar negaranya bebas dari kesengsaraan. Waktu berjalan terus, pendidikan dan lingkungan merubah cita-cita mulia anak bangsa yang gandrung akan kemerdekaan  sesungguhnya. Tak sedikit ketika remaja cita-cita semula mulia di tikam kebusukan yang tumbuh subur, narkoba, free sex, cinta monyet, kemiskinan orang tua dan hidup foya-foya adalah gaya hidup yang menenggelamkan generasi muda. Banyak orang berpendidikan namun tak mempunyai jiwa social, banyak anak jalan berjiwa social namun tak mampu untuk membantu hal yang besar.
Di kampus yang katanya kampus pergerakan aku tak merasakan ada gerakan untuk menjadi seorang negarawan besar yang akan membawa kemerdekaan. Di kampus yang katanya kampus pendidikan aku hanya menemukan tongkrongan di jalan membahas masa depan dirinya yang tak kunjung membahagiakan. Ada banyak beasiswa salah sasaran hingga menimbulkan kesenjangan kepintaran.
Di siang yang panas aku melangkah menelusuri  jalanan menanjak seperti hidupku yang selalu harus bertindak agar tak cukup berada di lapisan bawah. Di pasar,  siang ini aku bertemu ibu pedagang sayur baik hati, mungkin dia tau kalau aku anak yang tak mampu, atau memang ibu itu baik hati kepada para pembeli. Saat aku membeli brambang, sayuran, dan krupuk ibu itu sedang menyisihkan sayuran layu bersanding dengan temanku, aku tak tau isi percakapan temanku hingga si ibu itu memberikan sayur kangkung yang menurutku itu banyak kepadaku untuk ku masak bersama teman-temanku. Sungguh trimakasihku kepadamu wahai ibu penjual sayur di pasar, aku berhutang budi padamu atas kebaikan hatimu. Pelajaran yang satu ini membuatku ingin segera aku berebut waktu untuk mendapatkan sesuatu yang sekiranya itu bisa membantu rakyat di negaraku, namun apa itu? Sampai saat inipun aku belum tau.
 Bertahan di kota, bagiku adalah hal yang sulit namun harus ku lakukan  karna itu adalah kewajibanku untuk menuntut ilmu. Memang ilmu yang aku dapat belumlah cukup untuk memenuhi target yang pernah aku impikan, namun aku percaya walaupun lambat, namun perlahan aku akan menuju ke sana, berjuang untuk manusia  yang mencintai manusia dan buminya. Aku percaya tuhan selalu mendengar do’a-do’a ayah ibuku, aku yakin tuhan akan mengabulkan do’a-do’a terbaik ayah ibuku untukku maka dari itu bertahan di sini adalah hal terbaik untuk hidupku walau terkadang aku rindu pada kapung halamanku.


jarkoni

JARKONI (iso ngajar ra iso ngelakoni)
oeh: fazat idea

            Manusia itu tempatnya salah. الا نسان محل الخطاء  kalo bahasa kerennya. Ajang alasan yang sudah terlalu sering dipakai untuk menutupi sebuah bentuk kesalahan seseorang. Kesalahan yang seharusnya memanglah akibat dari perbuatannya sendiri. Tapi karena manusianya sendirilah dan terlebih untuk zaman sekarang, sepertinya sikap dan ungkapan “salah” sangat tidak pantas jika digelarkan untuk dirinya. Meskipun sebenarnya jelas sekali jika ia memang benar – benar bersalah.
            Bagai hal yang amat sangat dan begitu memalukan sekali, ketika seorang melakukan suatu kesalahan. Padahal bukankah mereka mampu mengetahui suatu kebenaran setelah mereka paham apa arti dari salah itu sendiri ?.atau mereka merupakan ciptaan tuhan yang memang diciptakan dalam bentuk yang selalu mengerti dan paham semua kebenaran?!. Sensitif sekali manusia – manusia itu.
            Bahkan tidak jarang juga seorang “alim” atau seorang tokoh terkemuka dalam suatu organisasi misalnya, berusaha menutupi suatu apa yang tidak ia pahami dari pertanyaan anggotanya  dengan penjelasan yang se-taunya saja. Hanya sekedar menghindari sebuah gelar dianggap tidak tau. Dan bukankah seseorang akan lebih mengerti jika ia menjawab dengan jawaban yang jujur. “maaf, saya belum begitu memahaminya”. Bukankah itu merupakan kata yang lebih indah dan lebih menyamankan dari sebuah kesesatan pemahaman?
 Maka memang benar jika kiamat sudah dekat. Manusia saling menjadikan manusia yang kurang ilmu sebagai pemimpin mereka. Maka tak aneh pula jika hidup ini menjadi sesat menyesatkan.
Bukankah jika seorang tokoh tersohor harusnya menjadi seorang panutan bagi lainnya? Terlebih bagi kalangan yang mereka jadikan bawahan mereka? Kemudian bagaimana jika ia hanya mengungkapkan gambaran dari apa yang ia tahu. Tanpa juga bersedia mengamalkan apa yang ia tahu? Masihkah para seorang yang di bawahnya bersedia mengikuti segala apa yang diucapkannya? Masih pantaskah hal itu terjadi?
Maka tidak adil jika semuanya masih berjalan sesuai kondisinya. Lalu apa tujuan mereka mengingatkan seorang ketika mereka sendiri melakukan suatu hal – hal apa yang mereka larangkan, atau tiada mengerjakan bentuk tugas apa yang juga harus mereka lakukan?
Iya, memang benar jika manusia dikatakan sebagai tempatnya salah itu ada. Kemudian mereka mencoba saling mengingatkan satu sama lain. Memberi penjelasan jika apa yang dilakukan seorang lain salah. Memperbaiki sikap orang lain agar tidak melakukan kesalahan lagi yang sama dan berulang kali. Kemudiaan bagaimana dengan mereka sendiri?.
Tidakkah mereka sadar, atau pura – pura untuk tidak sadar?. Dari apa yang mereka larang pada seorang, dari apa yang mereka nasehatkan kepada seseorang, dari apa yang mereka perbaiki pada sikap seseorang. Tidakkah ia mengingat dari apa yang telah ia ucapkan kepada mereka yang dilarang?.
Tidakkah juga mereka sadar, banyak oknum bawah mereka yang sebenarnya tidak mampu menerima dari apa yang mereka lakukan. Namun yang dilakukan oknum itu hanya mampu berdiam diri menyimpan ganjalan yang tidak patut disimpan. Karena bisa saja ganjalan tersebut ketika keluar mampu menjadi lebih besar dari sekedar yang dibayangkan.
            Sudah merebak orang dengan kriteria seperti tersebut. Mereka hanya melihat jika mereka benar. Tanpa memandang kesalahan apa di balik bentuk jawaban atau nasehatnya tersebut.
            Saat mereka mencoba menjelaskan bagaimana prosedur yang seharusnya dilakukan, bagaimana cara menghormati, menghargai, ataupun cara melakukan sesuatu dengan benar dan sesuai norma atau adat yang berlaku. Sungguh piawai sekali bahasa mereka. Teliti dan sangat jeli sekali menatap kekurangan secuil saja dari sikap seseorang. Lalu bagaimana mereka mengacai diri mereka sendiri? Bagaimana pula kabar para anggota yang di bawah mereka?
            Jika mereka benar orang yang “tahu”, tidakkah mereka berfikir “sependek” (baca sejauh = sindiran) itu?. Atau tidakkah pula mereka berfikir apa akibat dari semuanya? Dari apa yang ia ucapkan?.
            Di mana juga hal tersebut tidak hanya terjadi pada kehidupan orang – orang besar. Sudah hampir semua manusia terjangkit penyakit yang serupa dan begitu sama dengan hal tersebut. Yang kadang ada yang menyadari hal tersebut dan ada pula yang tidak.
            Jika yang sadar saja masih bersedia menggerakkan tubuh mereka pada hal yang mereka tau itu salah, lagi – lagi pertanyaan sama terungkap kembali. Bagaimana nasib mereka yang tidak menyadarinya? Bahkan sama sekali tidak sadar.
            Jika hal demikian telah terungkap secara jelas, bukankah seharusnya setiap seorang saling menyikapi dirinya sendiri? Mencoba menahan ungkapan dari kecacatan seseorang kepada orang lain, mencoba berbicara santun dengan objek itu sendiri, atau dengan dipasangkan untuk dirinya sendiri sebagai bentuk intropeksi. Bukankah hal itu mampu menjadi lebih indah pada waktunya nanti?
            Mungkin memang menjadi sebuah fitrah manusia jika ia akan mampu lebih pandai untuk menilai kecacatan seseorang. Begitu jeli dari setiap tingkah laku orang sekitarnya. Tapi tak pandai jika melihat dirinya sendiri. Tak pintar untuk berkaca, bagaimana ia hidup dari kelasahan – kesalahan sekelilingnya, bukannya malah menjadikan semuanya saling menyalahkan satu sama lain.
            Mereka mungkin tidak ingat jika mereka juga manusia. Manusia yang merupakan sebuah wadah dari seonggok kesalahan. Mereka lupa menjadi manusia. Lupa hakikat eksistensi mereka. Mereka melupakan diri mereka sendiri. Di mana mereka ditugasi sebagai manusia. Manusia yang benar – benar manusia. Bukannya manusia yang berproses menjadi malaikat, bersifat hampir seperti malaikat. Tapi mereka adalah sekumpulan manusia yang selalu terpengaruh daya hujat setan. Yang bisa jadi mereka juga termasuk dalam golongan setan itu sendiri.
            Bagaimana mungkin juga mereka berproses memiliki sifat seperti para malaikat? Jika sekedar sanggahan saja mereka tak menerimanya. Apalagi ketika ada seorang yang mencoba memberanikan diri untuk mengungkap kesalahan mereka hanya agar mereka sadar tanpa maksud menjelek – jelekkan atau lainya. Bisa jadi orang yang mengungkapkan tersebut akan mati sia – sia. Kasian sekali!
            Tuhan menciptakan segala sesuatu secara berpasang – pasangan. Kalimat yang cocok untuk mewakili gambaran isi dunia.
Sebagaimana ungkapan Ibnu Khaldun, peradaban yang semakin maju membawa makna secara tersirat dari sebuah kehancuran. Lagi – lagi peradaban merupakan salah satu faktor penyebab dari sebuah kehancuran. Terlebih kehancuran dunia ini yang dipelopori oleh manusianya sendiri. Mereka terlalu terlena dengan kemewahan dan kehidupan baru mereka. Maka bukan merupakan  kesalahan lagi jika memang akibat dari kemajuan suatu hal juga membawa kemunduran.
Sebenarnya dunia hanyalah bayang semu. Melihat hal tabu sama sekali tak ragu, tapi melihat ayu menjadi layu. Bayang semu yang kaku.
            Seharusnya kesadaran masing2 individu tertanam kuat dalam diri perorangan. Setidaknya, ada sedikit perubahan kecil dari kehancuran yang merebak bagai polusi ini. Tanpa kesadaran dari individu, bagaimana mungkin rasa acuh tiba – tiba menjadi rasa haru.
            Sekalipun ketika usaha dari masing – masing individu tidak begitu dipedulikan dari sisi lain, khilaf misalnya. Dan hal itu juga sebenarnya berfungsi banyak bagi seseorang. Dengan satu syarat saja. Sadar.
            Mencoba memahami secara langsung dari pihak perasa. Bagaimana rasa ketika ia menjadi seorang bawahan yang hanya mampu meng-iyakan segala bentuk permintaan dari atasan. Tanpa mampu untuk membantah sedikit saja dari apa yang mereka perintahkan atas apa yang mereka ucapkan.

Jika mereka saja sudah berani untuk mencoba menasihati seorang, tidakkah juga mereka harus mencoba menasihati dirinya sendiri. Atau yang paling minimal mereka mampu berkaca sebelum menganggap seseorang salah. Dan mampu menahan hal yang ingin mereka lakukan dari apa yang mereka ungkap selama ini kepada banyak kalangan. Atau adakah semua itu hanyalah kesadaran yang tertunda?!.

Jumat, 31 Oktober 2014

entah

Entah
Oleh: Muhammad Shofwan Zaim

Di persinggungan titik koma
Di atas ratapan mahluk nista
Sungai cinta mengalir deras
Bermuara pada se gombyok untaian kata tak bermakna
Ruang kosong di kepala menjadi tempat sampah
Menampung bualan sampah mahluk sampah
Metabolisme dalam perut yang semula lancar
Kini isinya muntah
Karna Ruang kosong di kepala
Penuh buangan sampah mahluk sampah
Terbujur lesu
Terbaring gonjang ganjing
O
Aku ingat sapi tetanggaku
Menginjak-injak taman depan rumahku
Oh cintaku
Yang kadang menjengkelkan
Tapi aku rindu
Taman sederhana itu mengingatkanku pada cinta sejatiku
Yaitu
Kamu wahai yang mencintaiku
Bibir sungai itu berubah menjadi cinta
Yang membahagiakan anak
Anak-anak haus akan bahagia

Lapang dada menerima mainan menyehatkan