JARKONI (iso ngajar
ra iso ngelakoni)
oeh: fazat idea
Manusia itu
tempatnya salah. الا نسان محل الخطاء kalo bahasa kerennya.
Ajang alasan yang sudah terlalu sering dipakai untuk menutupi sebuah bentuk
kesalahan seseorang. Kesalahan yang seharusnya memanglah akibat dari
perbuatannya sendiri. Tapi karena manusianya sendirilah dan terlebih untuk
zaman sekarang, sepertinya sikap dan ungkapan “salah” sangat tidak pantas jika
digelarkan untuk dirinya. Meskipun sebenarnya jelas sekali jika ia memang benar
– benar bersalah.
Bagai hal
yang amat sangat dan begitu memalukan sekali, ketika seorang melakukan suatu
kesalahan. Padahal bukankah mereka mampu mengetahui suatu kebenaran setelah
mereka paham apa arti dari salah itu sendiri ?.atau mereka merupakan ciptaan
tuhan yang memang diciptakan dalam bentuk yang selalu mengerti dan paham semua
kebenaran?!. Sensitif sekali manusia – manusia itu.
Bahkan
tidak jarang juga seorang “alim” atau seorang tokoh terkemuka dalam suatu
organisasi misalnya, berusaha menutupi suatu apa yang tidak ia pahami dari
pertanyaan anggotanya dengan penjelasan
yang se-taunya saja. Hanya sekedar menghindari sebuah gelar dianggap tidak tau.
Dan bukankah seseorang akan lebih mengerti jika ia menjawab dengan jawaban yang
jujur. “maaf, saya belum begitu memahaminya”. Bukankah itu merupakan kata yang
lebih indah dan lebih menyamankan dari sebuah kesesatan pemahaman?
Maka memang benar jika kiamat sudah dekat.
Manusia saling menjadikan manusia yang kurang ilmu sebagai pemimpin mereka.
Maka tak aneh pula jika hidup ini menjadi sesat menyesatkan.
Bukankah jika seorang tokoh
tersohor harusnya menjadi seorang panutan bagi lainnya? Terlebih bagi kalangan
yang mereka jadikan bawahan mereka? Kemudian bagaimana jika ia hanya
mengungkapkan gambaran dari apa yang ia tahu. Tanpa juga bersedia mengamalkan
apa yang ia tahu? Masihkah para seorang yang di bawahnya bersedia mengikuti
segala apa yang diucapkannya? Masih pantaskah hal itu terjadi?
Maka tidak adil jika semuanya masih
berjalan sesuai kondisinya. Lalu apa tujuan mereka mengingatkan seorang ketika
mereka sendiri melakukan suatu hal – hal apa yang mereka larangkan, atau tiada
mengerjakan bentuk tugas apa yang juga harus mereka lakukan?
Iya, memang benar jika manusia
dikatakan sebagai tempatnya salah itu ada. Kemudian mereka mencoba saling
mengingatkan satu sama lain. Memberi penjelasan jika apa yang dilakukan seorang
lain salah. Memperbaiki sikap orang lain agar tidak melakukan kesalahan lagi
yang sama dan berulang kali. Kemudiaan bagaimana dengan mereka sendiri?.
Tidakkah mereka sadar, atau pura –
pura untuk tidak sadar?. Dari apa yang mereka larang pada seorang, dari apa
yang mereka nasehatkan kepada seseorang, dari apa yang mereka perbaiki pada
sikap seseorang. Tidakkah ia mengingat dari apa yang telah ia ucapkan kepada
mereka yang dilarang?.
Tidakkah juga mereka sadar, banyak
oknum bawah mereka yang sebenarnya tidak mampu menerima dari apa yang mereka
lakukan. Namun yang dilakukan oknum itu hanya mampu berdiam diri menyimpan
ganjalan yang tidak patut disimpan. Karena bisa saja ganjalan tersebut ketika
keluar mampu menjadi lebih besar dari sekedar yang dibayangkan.
Sudah
merebak orang dengan kriteria seperti tersebut. Mereka hanya melihat jika
mereka benar. Tanpa memandang kesalahan apa di balik bentuk jawaban atau nasehatnya
tersebut.
Saat mereka
mencoba menjelaskan bagaimana prosedur yang seharusnya dilakukan, bagaimana
cara menghormati, menghargai, ataupun cara melakukan sesuatu dengan benar dan
sesuai norma atau adat yang berlaku. Sungguh piawai sekali bahasa mereka.
Teliti dan sangat jeli sekali menatap kekurangan secuil saja dari sikap
seseorang. Lalu bagaimana mereka mengacai diri mereka sendiri? Bagaimana pula
kabar para anggota yang di bawah mereka?
Jika mereka
benar orang yang “tahu”, tidakkah mereka berfikir “sependek” (baca sejauh =
sindiran) itu?. Atau tidakkah pula mereka berfikir apa akibat dari semuanya?
Dari apa yang ia ucapkan?.
Di mana
juga hal tersebut tidak hanya terjadi pada kehidupan orang – orang besar. Sudah
hampir semua manusia terjangkit penyakit yang serupa dan begitu sama dengan hal
tersebut. Yang kadang ada yang menyadari hal tersebut dan ada pula yang tidak.
Jika yang
sadar saja masih bersedia menggerakkan tubuh mereka pada hal yang mereka tau
itu salah, lagi – lagi pertanyaan sama terungkap kembali. Bagaimana nasib
mereka yang tidak menyadarinya? Bahkan sama sekali tidak sadar.
Jika hal
demikian telah terungkap secara jelas, bukankah seharusnya setiap seorang
saling menyikapi dirinya sendiri? Mencoba menahan ungkapan dari kecacatan
seseorang kepada orang lain, mencoba berbicara santun dengan objek itu sendiri,
atau dengan dipasangkan untuk dirinya sendiri sebagai bentuk intropeksi.
Bukankah hal itu mampu menjadi lebih indah pada waktunya nanti?
Mungkin
memang menjadi sebuah fitrah manusia jika ia akan mampu lebih pandai untuk
menilai kecacatan seseorang. Begitu jeli dari setiap tingkah laku orang
sekitarnya. Tapi tak pandai jika melihat dirinya sendiri. Tak pintar untuk
berkaca, bagaimana ia hidup dari kelasahan – kesalahan sekelilingnya, bukannya
malah menjadikan semuanya saling menyalahkan satu sama lain.
Mereka
mungkin tidak ingat jika mereka juga manusia. Manusia yang merupakan sebuah
wadah dari seonggok kesalahan. Mereka lupa menjadi manusia. Lupa hakikat
eksistensi mereka. Mereka melupakan diri mereka sendiri. Di mana mereka
ditugasi sebagai manusia. Manusia yang benar – benar manusia. Bukannya manusia
yang berproses menjadi malaikat, bersifat hampir seperti malaikat. Tapi mereka
adalah sekumpulan manusia yang selalu terpengaruh daya hujat setan. Yang bisa
jadi mereka juga termasuk dalam golongan setan itu sendiri.
Bagaimana
mungkin juga mereka berproses memiliki sifat seperti para malaikat? Jika
sekedar sanggahan saja mereka tak menerimanya. Apalagi ketika ada seorang yang
mencoba memberanikan diri untuk mengungkap kesalahan mereka hanya agar mereka
sadar tanpa maksud menjelek – jelekkan atau lainya. Bisa jadi orang yang
mengungkapkan tersebut akan mati sia – sia. Kasian sekali!
Tuhan
menciptakan segala sesuatu secara berpasang – pasangan. Kalimat yang cocok
untuk mewakili gambaran isi dunia.
Sebagaimana ungkapan Ibnu Khaldun,
peradaban yang semakin maju membawa makna secara tersirat dari sebuah
kehancuran. Lagi – lagi peradaban merupakan salah satu faktor penyebab dari
sebuah kehancuran. Terlebih kehancuran dunia ini yang dipelopori oleh
manusianya sendiri. Mereka terlalu terlena dengan kemewahan dan kehidupan baru
mereka. Maka bukan merupakan kesalahan
lagi jika memang akibat dari kemajuan suatu hal juga membawa kemunduran.
Sebenarnya dunia hanyalah bayang
semu. Melihat hal tabu sama sekali tak ragu, tapi melihat ayu menjadi layu.
Bayang semu yang kaku.
Seharusnya
kesadaran masing2 individu tertanam kuat dalam diri perorangan. Setidaknya, ada
sedikit perubahan kecil dari kehancuran yang merebak bagai polusi ini. Tanpa
kesadaran dari individu, bagaimana mungkin rasa acuh tiba – tiba menjadi rasa
haru.
Sekalipun
ketika usaha dari masing – masing individu tidak begitu dipedulikan dari sisi
lain, khilaf misalnya. Dan hal itu juga sebenarnya berfungsi banyak bagi
seseorang. Dengan satu syarat saja. Sadar.
Mencoba
memahami secara langsung dari pihak perasa. Bagaimana rasa ketika ia menjadi
seorang bawahan yang hanya mampu meng-iyakan segala bentuk permintaan dari
atasan. Tanpa mampu untuk membantah sedikit saja dari apa yang mereka
perintahkan atas apa yang mereka ucapkan.
Jika mereka saja sudah berani untuk
mencoba menasihati seorang, tidakkah juga mereka harus mencoba menasihati
dirinya sendiri. Atau yang paling minimal mereka mampu berkaca sebelum
menganggap seseorang salah. Dan mampu menahan hal yang ingin mereka lakukan
dari apa yang mereka ungkap selama ini kepada banyak kalangan. Atau adakah
semua itu hanyalah kesadaran yang tertunda?!.