Minggu, 02 November 2014

jarkoni

JARKONI (iso ngajar ra iso ngelakoni)
oeh: fazat idea

            Manusia itu tempatnya salah. الا نسان محل الخطاء  kalo bahasa kerennya. Ajang alasan yang sudah terlalu sering dipakai untuk menutupi sebuah bentuk kesalahan seseorang. Kesalahan yang seharusnya memanglah akibat dari perbuatannya sendiri. Tapi karena manusianya sendirilah dan terlebih untuk zaman sekarang, sepertinya sikap dan ungkapan “salah” sangat tidak pantas jika digelarkan untuk dirinya. Meskipun sebenarnya jelas sekali jika ia memang benar – benar bersalah.
            Bagai hal yang amat sangat dan begitu memalukan sekali, ketika seorang melakukan suatu kesalahan. Padahal bukankah mereka mampu mengetahui suatu kebenaran setelah mereka paham apa arti dari salah itu sendiri ?.atau mereka merupakan ciptaan tuhan yang memang diciptakan dalam bentuk yang selalu mengerti dan paham semua kebenaran?!. Sensitif sekali manusia – manusia itu.
            Bahkan tidak jarang juga seorang “alim” atau seorang tokoh terkemuka dalam suatu organisasi misalnya, berusaha menutupi suatu apa yang tidak ia pahami dari pertanyaan anggotanya  dengan penjelasan yang se-taunya saja. Hanya sekedar menghindari sebuah gelar dianggap tidak tau. Dan bukankah seseorang akan lebih mengerti jika ia menjawab dengan jawaban yang jujur. “maaf, saya belum begitu memahaminya”. Bukankah itu merupakan kata yang lebih indah dan lebih menyamankan dari sebuah kesesatan pemahaman?
 Maka memang benar jika kiamat sudah dekat. Manusia saling menjadikan manusia yang kurang ilmu sebagai pemimpin mereka. Maka tak aneh pula jika hidup ini menjadi sesat menyesatkan.
Bukankah jika seorang tokoh tersohor harusnya menjadi seorang panutan bagi lainnya? Terlebih bagi kalangan yang mereka jadikan bawahan mereka? Kemudian bagaimana jika ia hanya mengungkapkan gambaran dari apa yang ia tahu. Tanpa juga bersedia mengamalkan apa yang ia tahu? Masihkah para seorang yang di bawahnya bersedia mengikuti segala apa yang diucapkannya? Masih pantaskah hal itu terjadi?
Maka tidak adil jika semuanya masih berjalan sesuai kondisinya. Lalu apa tujuan mereka mengingatkan seorang ketika mereka sendiri melakukan suatu hal – hal apa yang mereka larangkan, atau tiada mengerjakan bentuk tugas apa yang juga harus mereka lakukan?
Iya, memang benar jika manusia dikatakan sebagai tempatnya salah itu ada. Kemudian mereka mencoba saling mengingatkan satu sama lain. Memberi penjelasan jika apa yang dilakukan seorang lain salah. Memperbaiki sikap orang lain agar tidak melakukan kesalahan lagi yang sama dan berulang kali. Kemudiaan bagaimana dengan mereka sendiri?.
Tidakkah mereka sadar, atau pura – pura untuk tidak sadar?. Dari apa yang mereka larang pada seorang, dari apa yang mereka nasehatkan kepada seseorang, dari apa yang mereka perbaiki pada sikap seseorang. Tidakkah ia mengingat dari apa yang telah ia ucapkan kepada mereka yang dilarang?.
Tidakkah juga mereka sadar, banyak oknum bawah mereka yang sebenarnya tidak mampu menerima dari apa yang mereka lakukan. Namun yang dilakukan oknum itu hanya mampu berdiam diri menyimpan ganjalan yang tidak patut disimpan. Karena bisa saja ganjalan tersebut ketika keluar mampu menjadi lebih besar dari sekedar yang dibayangkan.
            Sudah merebak orang dengan kriteria seperti tersebut. Mereka hanya melihat jika mereka benar. Tanpa memandang kesalahan apa di balik bentuk jawaban atau nasehatnya tersebut.
            Saat mereka mencoba menjelaskan bagaimana prosedur yang seharusnya dilakukan, bagaimana cara menghormati, menghargai, ataupun cara melakukan sesuatu dengan benar dan sesuai norma atau adat yang berlaku. Sungguh piawai sekali bahasa mereka. Teliti dan sangat jeli sekali menatap kekurangan secuil saja dari sikap seseorang. Lalu bagaimana mereka mengacai diri mereka sendiri? Bagaimana pula kabar para anggota yang di bawah mereka?
            Jika mereka benar orang yang “tahu”, tidakkah mereka berfikir “sependek” (baca sejauh = sindiran) itu?. Atau tidakkah pula mereka berfikir apa akibat dari semuanya? Dari apa yang ia ucapkan?.
            Di mana juga hal tersebut tidak hanya terjadi pada kehidupan orang – orang besar. Sudah hampir semua manusia terjangkit penyakit yang serupa dan begitu sama dengan hal tersebut. Yang kadang ada yang menyadari hal tersebut dan ada pula yang tidak.
            Jika yang sadar saja masih bersedia menggerakkan tubuh mereka pada hal yang mereka tau itu salah, lagi – lagi pertanyaan sama terungkap kembali. Bagaimana nasib mereka yang tidak menyadarinya? Bahkan sama sekali tidak sadar.
            Jika hal demikian telah terungkap secara jelas, bukankah seharusnya setiap seorang saling menyikapi dirinya sendiri? Mencoba menahan ungkapan dari kecacatan seseorang kepada orang lain, mencoba berbicara santun dengan objek itu sendiri, atau dengan dipasangkan untuk dirinya sendiri sebagai bentuk intropeksi. Bukankah hal itu mampu menjadi lebih indah pada waktunya nanti?
            Mungkin memang menjadi sebuah fitrah manusia jika ia akan mampu lebih pandai untuk menilai kecacatan seseorang. Begitu jeli dari setiap tingkah laku orang sekitarnya. Tapi tak pandai jika melihat dirinya sendiri. Tak pintar untuk berkaca, bagaimana ia hidup dari kelasahan – kesalahan sekelilingnya, bukannya malah menjadikan semuanya saling menyalahkan satu sama lain.
            Mereka mungkin tidak ingat jika mereka juga manusia. Manusia yang merupakan sebuah wadah dari seonggok kesalahan. Mereka lupa menjadi manusia. Lupa hakikat eksistensi mereka. Mereka melupakan diri mereka sendiri. Di mana mereka ditugasi sebagai manusia. Manusia yang benar – benar manusia. Bukannya manusia yang berproses menjadi malaikat, bersifat hampir seperti malaikat. Tapi mereka adalah sekumpulan manusia yang selalu terpengaruh daya hujat setan. Yang bisa jadi mereka juga termasuk dalam golongan setan itu sendiri.
            Bagaimana mungkin juga mereka berproses memiliki sifat seperti para malaikat? Jika sekedar sanggahan saja mereka tak menerimanya. Apalagi ketika ada seorang yang mencoba memberanikan diri untuk mengungkap kesalahan mereka hanya agar mereka sadar tanpa maksud menjelek – jelekkan atau lainya. Bisa jadi orang yang mengungkapkan tersebut akan mati sia – sia. Kasian sekali!
            Tuhan menciptakan segala sesuatu secara berpasang – pasangan. Kalimat yang cocok untuk mewakili gambaran isi dunia.
Sebagaimana ungkapan Ibnu Khaldun, peradaban yang semakin maju membawa makna secara tersirat dari sebuah kehancuran. Lagi – lagi peradaban merupakan salah satu faktor penyebab dari sebuah kehancuran. Terlebih kehancuran dunia ini yang dipelopori oleh manusianya sendiri. Mereka terlalu terlena dengan kemewahan dan kehidupan baru mereka. Maka bukan merupakan  kesalahan lagi jika memang akibat dari kemajuan suatu hal juga membawa kemunduran.
Sebenarnya dunia hanyalah bayang semu. Melihat hal tabu sama sekali tak ragu, tapi melihat ayu menjadi layu. Bayang semu yang kaku.
            Seharusnya kesadaran masing2 individu tertanam kuat dalam diri perorangan. Setidaknya, ada sedikit perubahan kecil dari kehancuran yang merebak bagai polusi ini. Tanpa kesadaran dari individu, bagaimana mungkin rasa acuh tiba – tiba menjadi rasa haru.
            Sekalipun ketika usaha dari masing – masing individu tidak begitu dipedulikan dari sisi lain, khilaf misalnya. Dan hal itu juga sebenarnya berfungsi banyak bagi seseorang. Dengan satu syarat saja. Sadar.
            Mencoba memahami secara langsung dari pihak perasa. Bagaimana rasa ketika ia menjadi seorang bawahan yang hanya mampu meng-iyakan segala bentuk permintaan dari atasan. Tanpa mampu untuk membantah sedikit saja dari apa yang mereka perintahkan atas apa yang mereka ucapkan.

Jika mereka saja sudah berani untuk mencoba menasihati seorang, tidakkah juga mereka harus mencoba menasihati dirinya sendiri. Atau yang paling minimal mereka mampu berkaca sebelum menganggap seseorang salah. Dan mampu menahan hal yang ingin mereka lakukan dari apa yang mereka ungkap selama ini kepada banyak kalangan. Atau adakah semua itu hanyalah kesadaran yang tertunda?!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar