RESENSI
A D A M 3 1 M E T E R
Oleh: Etika
Crew magang IDEA
Ternyata,
tinggi adam 31 meter! Sebuah opini mencengangkan di tengah maraknya statement perbedaan pandangan antara
kaum naturalis dan para kreasionis yang dikemas oleh Bambang Tri dalam bukunya Adam 31
Meter. Dengan penyampaian tegas, lugas, dan cerdas, penulis mencoba
menjelaskan secara eksplisit bagaimana ayat-ayat yang semula kita kira tidak
memiliki korelasi apapun tentang evolusi, menjadi ayat emas dalam Al-Quran yang
pro evolusi.
Terinspirasi
oleh Mbah Syahid Kemadu, seorang kyai dari Kemadu Rembang, yang mengatakan jika
tinggi adam sekitar 30an meter. Penulis yang notabene memang santri yang
mencintai ilmu pengetahuan pun mulai melakukan kajian ilmiah untuk membenarkan
asumsi beliau yang berasal dari hadits nabi tersebut. Mulai dari kajian-kajian
sederhana tentang penafsiran Al-Quran dengan kaidah kenahwuan, sampai kajian
eksplisit tentang fakta-fakta ilmiah yang mencengangkan. Semua diramu dengan
bahasa yang mudah dipahami.
Pematahan
teori evolusi Darwin yang menyatakan jika hominid
(baca: manusia purba) merupakan leluhur manusia, serta penolakan teori
kreasionis ala Harun Yahya yang menyatakan jika hominid tidak pernah ada. Dengan bukti otentik menggunakan dalil Al-Quran
yang telah ditahsiskan dengan kaidah kebahasa araban.
Dalam
salah satu kutipan, Bambang Tri menyatakan dengan tegas bahwa “bagaimanapun,
Al-Quran tidak melarang kita meyakini ‘manusia’ purba sebagai pendahulu kita,
tetapi tidak-seperti Darwin cs.-menganggap mereka leluhur kita”. setidaknya, dari kalimat tersebut kita sedikit banyak dapat
menyimpulkan bahwasannya argumen yang menyatakan jika statement para naturalis kurang dapat dijajarkan dengan statement
keagamaan adalah suatu kesalahan besar.
Bukankah
Al-Quran adalah mukjizat rasulullah sepanjang masa? Tentu bukan hal yang musykil
jika dari fakta-fakta yang ditemukan manusia mengenai ras hominid, terdapat tanda tangan emas tuhan yang mengarah jika Al-Quran pro
evolusi. Singkirkan debu-debu penafsiran konservatif yang karenanya, keilmiahan
ayat-ayat emas itu menjadi samar. Sekarang saatnya kita membuka mata terhadap
pembahasan kontemporer dengan fakta-fakta yang tidak dapat ditolak lagi
kebenarannya.
Dalam
kajian lain dalam buku ini, penulis turut pula menyinggung tentang kepemimpinan
Fir’aun zaman Musa As. Benarkah Fir’aun Ramses yang selama ini kita yakini
sebagai Fir’aun kejam pada zaman itu adalah raja yang tenggelam dilaut seperti
dalam penjelasan Al-Quran? Apakah Tsunami penyebab tenggelamnya Fir’aun saat
pengejaran terhadap Musa berlangsung? Dan benarkah statement bahwa Laut Merah adalah kejadian perkara dahsyat tersebut?
Buku
ini menuntut kita untuk lebih membuka mata tentang fakta-fakta yang pada
awalnya sangat sulit kita korelasikan dengan kejadian ilmiah dalam Al-Quran,
ternyata mampu terpecahkan dengan bantuan ilmu pengetahuan modern. Bambang Tri
memberi inspirasi kepada kita untuk mengubah paradigma tentang penafsiran
Al-Quran. Bahwa fakta yang kita dapat sekarang, ternyata mampu dibuktikan
dengan ayat-ayat-Nya. Dan bukan dengan sebaliknya. Wallahua’lambissawwab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar