Rabu, 05 November 2014

Adam 31 meter


RESENSI
A  D  A  M         3  1     M  E  T  E  R



Oleh: Etika
Crew magang IDEA

Ternyata, tinggi adam 31 meter! Sebuah opini mencengangkan di tengah maraknya statement  perbedaan pandangan antara kaum naturalis dan para kreasionis yang dikemas oleh Bambang Tri dalam bukunya Adam 31 Meter. Dengan penyampaian tegas, lugas, dan cerdas, penulis mencoba menjelaskan secara eksplisit bagaimana ayat-ayat yang semula kita kira tidak memiliki korelasi apapun tentang evolusi, menjadi ayat emas dalam Al-Quran yang pro evolusi.
Terinspirasi oleh Mbah Syahid Kemadu, seorang kyai dari Kemadu Rembang, yang mengatakan jika tinggi adam sekitar 30an meter. Penulis yang notabene memang santri yang mencintai ilmu pengetahuan pun mulai melakukan kajian ilmiah untuk membenarkan asumsi beliau yang berasal dari hadits nabi tersebut. Mulai dari kajian-kajian sederhana tentang penafsiran Al-Quran dengan kaidah kenahwuan, sampai kajian eksplisit tentang fakta-fakta ilmiah yang mencengangkan. Semua diramu dengan bahasa yang mudah dipahami.
Pematahan teori evolusi Darwin yang menyatakan jika hominid (baca: manusia purba) merupakan leluhur manusia, serta penolakan teori kreasionis ala Harun Yahya yang menyatakan jika hominid tidak pernah ada. Dengan bukti otentik menggunakan dalil Al-Quran yang telah ditahsiskan dengan kaidah kebahasa araban.
Dalam salah satu kutipan, Bambang Tri menyatakan dengan tegas bahwa “bagaimanapun, Al-Quran tidak melarang kita meyakini ‘manusia’ purba sebagai pendahulu kita, tetapi tidak-seperti Darwin cs.-menganggap mereka leluhur kita”. setidaknya, dari kalimat tersebut kita sedikit banyak dapat menyimpulkan bahwasannya argumen yang menyatakan jika statement para naturalis kurang dapat dijajarkan  dengan statement keagamaan adalah suatu kesalahan besar.
Bukankah Al-Quran adalah mukjizat rasulullah sepanjang masa? Tentu bukan hal yang musykil jika dari fakta-fakta yang ditemukan manusia mengenai ras hominid, terdapat tanda tangan emas tuhan yang mengarah jika Al-Quran pro evolusi. Singkirkan debu-debu penafsiran konservatif yang karenanya, keilmiahan ayat-ayat emas itu menjadi samar. Sekarang saatnya kita membuka mata terhadap pembahasan kontemporer dengan fakta-fakta yang tidak dapat ditolak lagi kebenarannya.
Dalam kajian lain dalam buku ini, penulis turut pula menyinggung tentang kepemimpinan Fir’aun zaman Musa As. Benarkah Fir’aun Ramses yang selama ini kita yakini sebagai Fir’aun kejam pada zaman itu adalah raja yang tenggelam dilaut seperti dalam penjelasan Al-Quran? Apakah Tsunami penyebab tenggelamnya Fir’aun saat pengejaran terhadap Musa berlangsung? Dan benarkah statement bahwa Laut Merah adalah kejadian perkara dahsyat tersebut?
Buku ini menuntut kita untuk lebih membuka mata tentang fakta-fakta yang pada awalnya sangat sulit kita korelasikan dengan kejadian ilmiah dalam Al-Quran, ternyata mampu terpecahkan dengan bantuan ilmu pengetahuan modern. Bambang Tri memberi inspirasi kepada kita untuk mengubah paradigma tentang penafsiran Al-Quran. Bahwa fakta yang kita dapat sekarang, ternyata mampu dibuktikan dengan ayat-ayat-Nya. Dan bukan dengan sebaliknya. Wallahua’lambissawwab.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar