Jumat, 28 Februari 2014

ketuhanan


                                                                    
 tulisan dari flasdisk




                                                                    KETUHANAN
BAB I
PENDAHULUAN
.    Latar Belakang
Dewasa ini, banyak sekali manusia yang tidak percaya akan adanya Tuhan. Kelompok Atheis bahkan sudah berada dimana-mana. Mereka beranggapan bahwa Tuhan itu tidak ada. Selain itu, ada kelompok yang percaya pada Tuhan tapi mereka mendustakannya. Banyak dari umat muslim yang ber-KTP muslim, akan tetapi jauh dari Allah.
Oleh karena itulah, melalui makalah yang akan kita bahas nanti, kita akan meninjauh tentang Tuhan. Apakah Tuhan layak untuk kita tinggalkan atau justru kita sangat membutuhkan Tuhan. Saya tidak akan menjelaskan di awal bab ini, akan tetapi saya akan menjelaskan pada bab yang kedua. Dimana semua tentang Tuhan akan kita kupas secara rinci.
    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada, maka dapat ditarik permasalahan sebagai berikut:
a.       Ketuhanan menurut surah Fatir ayat 44
b.      Ketuhanan menurut surah Qaf ayat 16
c.       Ketuhanan menurut surah al-Hadid ayat 4






BAB II
PEMBAHASAN
Tafsir Al-Maraghi
   Tafsir al-Maraghi QS. Fatir: 44

أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَكَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا
“Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha kuasa.”
Pengertian secara umum
Setelah Allah SWT. mengancam orang-orang musyrik akan diberlakukan sunahnya pada mereka, dengan menghancurkan mereka sebagaimana dihancurkannya orang-orang yang mendustakan sebelum mereka, maka Allah memperingatkan hal itu kepada mereka dengan bekas-bekas peninggalan orang-orang terdahulu yang dapat mereka saksikan dalam perlawatan-perlawatan berdagang, baik di Syam maupun Yaman. Tempat-tempat tinggal mereka telah sepi dari penghuni, dan kenikmatan yang pernah dinikmati telah terampas setelah mereka mempunyai kekuatan yang sempurna, bahkan jumlah dan perlengkapan yang banyak, harta dan anak-anak banyak pula. Semua itu sedikit pun tidak berguna bagi mereka dan tidak dapat mencegah mereka dari azab Allah ketika perintah Allah telah tiba. Karena Allah tidak bisa dilemahkan oleh sesuatu pun bila dia menghendaki[1].
Kemudian Allah menyebutkan pula betapa penyantun Allah terhadap hamba-hambanya. Dan kalau dia menghukum hamba-hambamnya atas kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan, maka Allah tidak membiarkan satu manusia pun di muka bumi yang masih merangkak-rangkak disana. Akan tetapi, Allah menangguhkan hukuman terhadap mereka sampai hari kiamat. Lalu dia akan menghisab mereka dan member alasan dengan sempurna kepada setiap orang yang berbuat[2]. Balasan amal yang baik dengan balasan yang baik dan yang buruk dengan balasan yang buruk. Dan dia maha tahu tentang keadaan hamba-hambanya.
Penjelasan
أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَكَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۚ
Tiadalah orang-orang yang menyekutukan Allah itu berjalan di muka bumi yang telah kami hancurkan penghuninya karena kekafiran terhadap kami dan pendustaan terhadap rasul-rasul kami, ketika mereka melakukan perlawanan ke Syiria dalam perdagangan mereka, lalu mereka memperlihatkan bagaimana kesudahan mereka. Bukankah penduduk-penduduk negeri itu kami hancurkan dan kami binasakan tempat-tempat tinggal mereka dan kami jadikan mereka sebagai perumpamaan bagi generasi sesudahnya. Lalu mereka mengambil pelajaran dari kaum-kaum itu dan menghentikan diri dari kemusyrikan yang mereka lakukan dengan menyembah tuhan-tuhan berupa patung-patung dan berhala-berhala?[3]
Kemudian Allah menerangkan bahwa kalau mereka tetap membangkang dan keras kepala, maka mereka tak akan luput dari hukuman Allah. Firman Allah:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ
Dan sungguh Allah tak akan dapat dilemahkan oleh orang-orang yang menyekutukan Allah dan mendustkan rasulnya, sehingga mereka dapat lari dari kejaran dan menyelamatkan diri dari kehancuran apabila Allah menghendaki hal itu terhadap mereka. Karena Allah tak dapat dikalahkan oleh sesuatu pun yang ada dilangit maupun bumi.
Tidak diragukan bahwa ini merupakan ancaman keras bagi orang-orang musyrik. Kemudian Allah member alasan mengapa dia tidak bisa dikalahkan oleh sesuatupun di langit dan di bumi dengan firmannya:
إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا
Sesungguhnya Allah Ta’ala maha tahu tentang orang yang berhak di segerakan hukumannya dan orang yang benar-benar bertaubat dan kembali kepada Tuhannya dan berhenti dari kesesatannya. Allah juga maha kuasa untuk member balasan kepada orang yang dia kehendaki diantara mereka, dan maha kuasa pula untuk member taufik kepada siapa saja yang dia kehendaki untuk beriman. Orang-orang musyrik menginginkan segera didatangkan ancaman Allah dengan sikap memperolok. Mereka berkata:
اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَٰذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
“Ya Allah, jika betul (Al-Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” (Q.S. Al-Anfal:32)
     Tafsir Al-Maraghi Q.S Qaaf:16
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika kedua malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri.”
Penjelasan
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ
Sesungguhnya Allah SWT. maha kuasa untuk membangkitkan manusia. Karena, dialah penciptanya dan yang mengetahui segaka urusanya, sehingga dia benar-benar tahu apa yang dibisikan oleh hatinya berupa kebaikan maupun keburukan[4]. Bisikan hati itu tidaklah dihukum. Karena menurut sebuah hadits shahih dari rasulullah SAW. Beliau bersabda:
إن الله تجاوز لأمتي ما حدثت به أنفسها ما لم تقل او تفعل
Sesungguhnya Allah Ta’ala mengampuni apa yang dibisikan oleh hati umatku selagi hal itu tidak diucapkan atau dilakukan.
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Dan kami lebih tahu tentang bisikan manusia dan tentang hal ihwalnya yang tersembunyi, tidak tersembunyi bagi kami sesuatu pun dari urusan mereka. Kami lebih tahu daripada pengetahuan kamu tentang urat nadi leher. Karena, urat nadi itu ditutupi oleh lapisan-lapisan daging, sedang ilmu Allah tidak ditutupi oleh sesuatu pun.
Ibnu Mardawih mengeluarkan sebuah hadits dari Abu Sa’id dari nabi saw., beliau bersabda:
Allah singgah pada Bani Adam empat persinggahan, yaitu bahwa ia lebih dekat kepadanya daripada urat nadi leher, dan dia mendinding antara seseorang dengan hatinya, dan ia memegang ubun-ubun setiap binatang melata dan dia menyertai mereka di mana pun mereka berada[5].
Al-Qusyairi berkata: ayat ini menimbulkan rasa ngeri, terkejut dan takut bagi suatu kaum dan menimbulkan rasa gembira, senang dan ketentraman hati pada kaum yang lain.
C.    Tafsir Al-Maraghi Q.S. Al-Hadid:4
هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudia dia bersemayam diatas ‘Arsy, dia mengetahui apa yang masuk kedalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan.”
Penjelasan
هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ
Dialah yang telah menciptakan langit yang tujuh dan bumi. Lalu mengatur mereka dengan segala isinya dalam enam tahap yang berbeda-beda, kemudia dia bersemayam di atas ‘Arsy-nya, yakni mengatasinya.
 يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا
Dia mengetahui makhluk apa pun yang masuk kedalam bumi. Maka tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, dan dia mengetahui apa saja yang keluar dari bumi, yaitu tumbuhan-tumbuhan, tanaman, buah maupun barang-barang tambang, sebagaimana dia nyatakan:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)."(Q.S. Al-An’am: 59)
وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ
Dan dia mengetahui segala sesuatu yang turun dari langit, seperti hujan dan para malaikat[6].
وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا
 Dan mengetahui pula apa yang naik dari bumi, seperti asap yang membumbung dan amal-amal saleh, sebagaimana dia nyatakan:
إِلَيْهِ يَصْعَدُ ٱلْكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلْعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرْفَعُهُ
“Kepada Allahlah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikan-Nya.” (Q.S. Fatir: 10)
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
Dan dia maha mengawasi amal perbuatanmu dimana saja kamu berada, dan dia mengetahui gerak-gerik dan diammu.
وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Dan dia maha waspada terhadapmu, dimana saja kamu berada dan dia mengetahui rahasia dan bisikan hatimu, sebagaimana dia berfirman:
سَوَاءٌ مِنْكُمْ مَنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَار
“Sama saja (bagi Tuhan) siapa diantara kamu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus terang dengan ucapannya itu dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan ia berjalan (menampakan diri) disiang hari.” (Q.S. Ar-Ra’d: 10)




BAB III
PENUTUP
   KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kita dituntut mengakui keberadaan Tuhan, menjalankan semua perintahnya dan menjauhi semua yang dilarangnya. Disamping itu, kita juga harus percaya pada apa yang telah Allah buat kepada kita dan semua makhluknya.
Sebagai seorang makhluk sudah sepantasnya kita percaya kepada Allah SWT. Karena dia telah menciptakan kita dan mengatur semua urusan kita. Dia selalu menemai kita kemanapun dan dimanapun kita berada.

     REKOMENDASI
Demikianlah makalah singkat tentang ketuhanan ini, semoga makalah yang singkat ini bisa memberikan pengaruh yang besar bagi kehidupan kita. Sebagai manusia tentunya kita tidak bisa lepas dari semua pengawasan Allah, kita dituntut untuk mempercayai adanya Allah. Oleh karena itu, kita harus menjaga diri kita dari semua perbuatan yang dibenci oleh Allah serta mengagungkannya.









DAFTAR PUSTAKA
Mustafa Ahmad Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi terjemahan jilid 22. Semarang: PT. Karya Toha Putra 2000
Mustafa Ahmad Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi terjemahan jilid 26. Semarang: PT. Karya Toha Putra 2000
Mustafa Ahmad Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi terjemahan jilid 27. Semarang: PT. Karya Toha Putra 2000



[1] . Tafsir Al-Maraghi, jilid 22. Hal. 247
[2] . Ibid. Hal. 248
[3] . Ibid. hal. 248
[4] . Tafsir Al-Maraghi jilid 26. Hal. 269
[5] . Ibid. Hal. 269
[6] . Tafsir Al-Maraghi. Jilid 27. Hal. 281

Tidak ada komentar:

Posting Komentar