tulisan dari flasdisk
KETUHANAN
BAB I
PENDAHULUAN
. Latar Belakang
Dewasa ini, banyak sekali manusia yang tidak percaya akan adanya Tuhan.
Kelompok Atheis bahkan sudah berada dimana-mana. Mereka beranggapan bahwa Tuhan
itu tidak ada. Selain itu, ada kelompok yang percaya pada Tuhan tapi mereka
mendustakannya. Banyak dari umat muslim yang ber-KTP muslim, akan tetapi jauh
dari Allah.
Oleh karena itulah, melalui makalah yang akan kita bahas nanti, kita akan meninjauh tentang Tuhan. Apakah
Tuhan layak untuk kita tinggalkan atau justru kita sangat membutuhkan Tuhan.
Saya tidak akan menjelaskan di awal bab ini, akan tetapi saya akan menjelaskan
pada bab yang kedua. Dimana semua tentang Tuhan akan kita kupas secara rinci.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada, maka dapat ditarik permasalahan
sebagai berikut:
a. Ketuhanan menurut surah Fatir ayat 44
b. Ketuhanan menurut surah Qaf ayat 16
c. Ketuhanan menurut surah al-Hadid ayat 4
BAB II
PEMBAHASAN
Tafsir Al-Maraghi
Tafsir al-Maraghi QS. Fatir: 44
أَوَلَمْ
يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ
قَبْلِهِمْ وَكَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ
لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ كَانَ
عَلِيمًا قَدِيرًا
“Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana
kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah
lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan
Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi
maha kuasa.”
Pengertian secara umum
Setelah Allah SWT. mengancam orang-orang musyrik akan diberlakukan sunahnya
pada mereka, dengan menghancurkan mereka sebagaimana dihancurkannya orang-orang
yang mendustakan sebelum mereka, maka Allah memperingatkan hal itu kepada
mereka dengan bekas-bekas peninggalan orang-orang terdahulu yang dapat mereka
saksikan dalam perlawatan-perlawatan berdagang, baik di Syam maupun Yaman.
Tempat-tempat tinggal mereka telah sepi dari penghuni, dan kenikmatan yang
pernah dinikmati telah terampas setelah mereka mempunyai kekuatan yang
sempurna, bahkan jumlah dan perlengkapan yang banyak, harta dan anak-anak
banyak pula. Semua itu sedikit pun tidak berguna bagi mereka dan tidak dapat
mencegah mereka dari azab Allah ketika perintah Allah telah tiba. Karena Allah
tidak bisa dilemahkan oleh sesuatu pun bila dia menghendaki[1].
Kemudian Allah menyebutkan pula betapa penyantun Allah terhadap hamba-hambanya.
Dan kalau dia menghukum hamba-hambamnya atas kesalahan-kesalahan yang mereka
lakukan, maka Allah tidak membiarkan satu manusia pun di muka bumi yang masih
merangkak-rangkak disana. Akan tetapi, Allah menangguhkan hukuman terhadap
mereka sampai hari kiamat. Lalu dia akan menghisab mereka dan member alasan
dengan sempurna kepada setiap orang yang berbuat[2].
Balasan amal yang baik dengan balasan yang baik dan yang buruk dengan balasan
yang buruk. Dan dia maha tahu tentang keadaan hamba-hambanya.
Penjelasan
أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ
الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَكَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۚ
Tiadalah orang-orang yang menyekutukan Allah itu berjalan di muka bumi yang
telah kami hancurkan penghuninya karena kekafiran terhadap kami dan pendustaan
terhadap rasul-rasul kami, ketika mereka melakukan perlawanan ke Syiria dalam
perdagangan mereka, lalu mereka memperlihatkan bagaimana kesudahan mereka.
Bukankah penduduk-penduduk negeri itu kami hancurkan dan kami binasakan
tempat-tempat tinggal mereka dan kami jadikan mereka sebagai perumpamaan bagi
generasi sesudahnya. Lalu mereka mengambil pelajaran dari kaum-kaum itu dan
menghentikan diri dari kemusyrikan yang mereka lakukan dengan menyembah tuhan-tuhan
berupa patung-patung dan berhala-berhala?[3]
Kemudian Allah menerangkan bahwa kalau mereka tetap membangkang dan keras
kepala, maka mereka tak akan luput dari hukuman Allah. Firman Allah:
وَمَا كَانَ اللَّهُ
لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ
Dan sungguh Allah tak akan dapat dilemahkan oleh orang-orang yang
menyekutukan Allah dan mendustkan rasulnya, sehingga mereka dapat lari dari
kejaran dan menyelamatkan diri dari kehancuran apabila Allah menghendaki hal
itu terhadap mereka. Karena Allah tak dapat dikalahkan oleh sesuatu pun yang
ada dilangit maupun bumi.
Tidak diragukan bahwa ini merupakan ancaman keras bagi orang-orang musyrik.
Kemudian Allah member alasan mengapa dia tidak bisa dikalahkan oleh sesuatupun
di langit dan di bumi dengan firmannya:
إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا
قَدِيرًا
Sesungguhnya Allah Ta’ala maha tahu tentang orang yang berhak di segerakan
hukumannya dan orang yang benar-benar bertaubat dan kembali kepada Tuhannya dan
berhenti dari kesesatannya. Allah juga maha kuasa untuk member balasan kepada
orang yang dia kehendaki diantara mereka, dan maha kuasa pula untuk member
taufik kepada siapa saja yang dia kehendaki untuk beriman. Orang-orang musyrik
menginginkan segera didatangkan ancaman Allah dengan sikap memperolok. Mereka
berkata:
اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَٰذَا
هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ
ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
“Ya Allah, jika betul (Al-Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi engkau,
maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab
yang pedih.” (Q.S. Al-Anfal:32)
Tafsir Al-Maraghi Q.S Qaaf:16
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ
مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang
dibisikan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,
(yaitu) ketika kedua malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk
disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri.”
Penjelasan
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ
نَفْسُهُ وَنَحْنُ
Sesungguhnya Allah SWT. maha kuasa untuk membangkitkan manusia. Karena,
dialah penciptanya dan yang mengetahui segaka urusanya, sehingga dia
benar-benar tahu apa yang dibisikan oleh hatinya berupa kebaikan maupun
keburukan[4].
Bisikan hati itu tidaklah dihukum. Karena menurut sebuah hadits shahih dari
rasulullah SAW. Beliau bersabda:
إن الله تجاوز لأمتي ما حدثت به أنفسها ما لم تقل او تفعل
Sesungguhnya Allah Ta’ala mengampuni apa yang dibisikan
oleh hati umatku selagi hal itu tidak diucapkan atau dilakukan.
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Dan kami lebih tahu tentang bisikan manusia dan tentang
hal ihwalnya yang tersembunyi, tidak tersembunyi bagi kami sesuatu pun dari
urusan mereka. Kami lebih tahu daripada pengetahuan kamu tentang urat nadi
leher. Karena, urat nadi itu ditutupi oleh lapisan-lapisan daging, sedang ilmu
Allah tidak ditutupi oleh sesuatu pun.
Ibnu Mardawih mengeluarkan sebuah hadits dari Abu Sa’id
dari nabi saw., beliau bersabda:
Allah singgah pada Bani Adam empat persinggahan, yaitu
bahwa ia lebih dekat kepadanya daripada urat nadi leher, dan dia mendinding
antara seseorang dengan hatinya, dan ia memegang ubun-ubun setiap binatang
melata dan dia menyertai mereka di mana pun mereka berada[5].
Al-Qusyairi berkata: ayat ini menimbulkan rasa ngeri,
terkejut dan takut bagi suatu kaum dan menimbulkan rasa gembira, senang dan
ketentraman hati pada kaum yang lain.
C. Tafsir Al-Maraghi Q.S. Al-Hadid:4
هُوَ الَّذِي
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى
الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا
يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا
كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,
kemudia dia bersemayam diatas ‘Arsy, dia mengetahui apa yang masuk kedalam bumi
dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang
naik kepadanya. Dan dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah maha
melihat apa yang kamu kerjakan.”
Penjelasan
هُوَ الَّذِي
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى
الْعَرْشِ
Dialah yang telah menciptakan langit yang tujuh dan bumi. Lalu mengatur
mereka dengan segala isinya dalam enam tahap yang berbeda-beda, kemudia dia
bersemayam di atas ‘Arsy-nya, yakni mengatasinya.
يَعْلَمُ مَا
يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا
Dia mengetahui makhluk apa pun yang masuk kedalam bumi. Maka tidak ada
sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, dan dia mengetahui apa saja yang
keluar dari bumi, yaitu tumbuhan-tumbuhan, tanaman, buah maupun barang-barang
tambang, sebagaimana dia nyatakan:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ
لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا
تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ
وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua
yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia
mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang
gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun
dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan
tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)."(Q.S. Al-An’am: 59)
وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ
Dan dia mengetahui segala sesuatu yang turun dari
langit, seperti hujan dan para malaikat[6].
وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا
Dan
mengetahui pula apa yang naik dari bumi, seperti asap yang membumbung dan
amal-amal saleh, sebagaimana dia nyatakan:
إِلَيْهِ
يَصْعَدُ ٱلْكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلْعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرْفَعُهُ
“Kepada Allahlah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh
dinaikan-Nya.” (Q.S. Fatir: 10)
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
Dan dia maha mengawasi amal perbuatanmu dimana saja kamu berada, dan dia
mengetahui gerak-gerik dan diammu.
وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Dan dia maha
waspada terhadapmu, dimana saja kamu berada dan dia mengetahui rahasia dan
bisikan hatimu, sebagaimana dia berfirman:
سَوَاءٌ مِنْكُمْ مَنْ
أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ
وَسَارِبٌ بِالنَّهَار
“Sama saja
(bagi Tuhan) siapa diantara kamu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang
berterus terang dengan ucapannya itu dan siapa yang bersembunyi di malam hari
dan ia berjalan (menampakan diri) disiang hari.” (Q.S.
Ar-Ra’d: 10)
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarkan
penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kita
dituntut mengakui keberadaan Tuhan, menjalankan semua perintahnya dan menjauhi
semua yang dilarangnya. Disamping itu, kita juga harus percaya pada apa yang
telah Allah buat kepada kita dan semua makhluknya.
Sebagai
seorang makhluk sudah sepantasnya kita percaya kepada Allah SWT. Karena dia
telah menciptakan kita dan mengatur semua urusan kita. Dia selalu menemai kita
kemanapun dan dimanapun kita berada.
REKOMENDASI
Demikianlah makalah
singkat tentang
ketuhanan ini, semoga makalah yang singkat ini bisa memberikan pengaruh yang
besar bagi kehidupan kita. Sebagai manusia tentunya kita tidak bisa lepas dari
semua pengawasan Allah, kita dituntut untuk mempercayai adanya Allah. Oleh karena
itu, kita harus menjaga diri kita dari semua perbuatan yang dibenci oleh Allah
serta mengagungkannya.
DAFTAR PUSTAKA
Mustafa Ahmad Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi terjemahan jilid 22. Semarang:
PT. Karya Toha Putra 2000
Mustafa Ahmad Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi terjemahan jilid 26. Semarang:
PT. Karya Toha Putra 2000
Mustafa Ahmad Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi terjemahan jilid 27. Semarang:
PT. Karya Toha Putra 2000
Tidak ada komentar:
Posting Komentar