Jumat, 28 Februari 2014

dari flasdisk1



I.                   PENDAHULUAN
Masyarakat jawa harus mengingat kembali konsensus dalam studi-studi etnografi bahwa pandangan dunia jawa tradisional, karena tersusun dari kekuatan-kekuatan spiritual dalam berbagai bentuk dan citra, seperti kekuatan pedang yang gaib, tempat-tempat keramat, ruh-ruh, dewa-dewa, guru-guru, dan aturan-aturan;dunia sinkretik jawa adalah apa yang disebut weber sebagai “ taman gaib “.[1] masyarakat jawa, atau tempatnya suku bangsa jawa, secara antropologi budaya adalah orang-orang yang dalam hidup kesehariannya menggunakan bahasa jawa dengan berbagai ragam dialeknya secara turun-temurun. Masyarakat jawa adalah mereka yang bertempat tinggal di daerah jawa tengah dan jawa timur, serta mereka yang berasal dari kedua daerah tersebut. Secara geografis suku bangsa jawa mendiami tanah jawa yang meliputi wilayah banyumas, kedu, yogyakarta, surakarta, madiun, malang, dan kediri, sedangkan di luar wilayah tersebut di namakan pesisir dan ujung timur.
Nenek moyang suku bangsa jawa tidak berbeda dari suku-suku bangsa indonesia lainnya yang menempati semenanjung malaka, kalimantan, sumatra, dan jawa yang disebut dataran sunda.wilayah ini masih menjadi satu dengan benua asia pada zaman es sebelum mencair. Dari sisa peninggalan masing-masing budayanya dimungkinkan ada hubungan darah di antara suku-suku tersebut.[2]

II.                RUMUSAN MASALAH
A.    Pengertian Tentang Tradisi
B.     Pengertian Tentang Ritual, Upacara dalam Masyarakat Jawa

III.             PEMBAHASAN
A.    Pengertian Tentang Tradisi dalam Masyarakat Islam
Islam jawa dalam tradisi muslim yang lebih besar.suatu penilaian terhadap bagaimana hubungan islam jawa dengan tradisi yang lebih besar memerlukan pula penilaian terhadap sumber-sumber sejarahnya, proses islam ditegarkan sebagai agama jawa , dan suatu pembahasan bagaimana orang jawa menafsirkan tradisi-tradisi tekstual, mistik, dan ritual.penafsiran-penafsiran jawa mengenai islam, setidaknya sejak abad ke-16, berpusat pada persoalan yang berhubungan dengan teologi, ritual.
Mudjanto ( 1986: 24 ) mengatakan , tradisi babad dibangun sepanjang pemerintahan Sultan Agung dan dimaksudkan untuk menegarkan legitimasi keagamaan mataram . dalam hal ini, terutama Babad Nitik Sultan Agung sangat penting.
Hal ini termasuk penaklukan kerajaan sumatra dan makah dengan cara-cara magis.[3]
B.     Pengertian Tentang Ritual, Upacara dalam Masyarakat Jawa
Agama Islam mengajarkan agar para pemeluknya melakukan kegiatan-kegiatan ritualistik tertentu. Yang dimaksud dengan kegiatan ritualistik adalah meliputi berbagai bentuk ibadah sebagaimana yang disimpulkan dalam ukuran islam, yakni Syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji.
Bagi orang jawa , hidup ini penuh dengan upacara , baik upacara-upacara yang berkaitan dengan lingkungan hidup manusia sejak dari keberadaannya dalam perut ibu, lahir, kanak-kanak, remaja, dewasa sampai dengan saat kematiannya, atau juga upacara-upacara yang berkaitan dengan aktifitas kehidupan sehari-hari dalam mencari nafkah , khususnya bagi para petani , pedagang , nelayan.
Upacara-upacara itu semula dilakukan dalam rangka untuk menangkal pengaruh buruk dari daya kekuatan gaib yang tidak dikehendaki yang akan membahayakan bagi kelangsungan manusia. Secara luwes islam memberikan warna baru pada upacara-upacara itu dengan sebutan kenduren atau slametan.upacara slametan ini yang pokok adalah pembacaan doa ( donga ) yang dipimpin oleh orang yang dipandang memiliki pengetahuan tentang islam , apakah seorang modin,kaum, lebe, atau kiai.makanan-makanan itu disediakan oleh penyelenggara upacara atau sering disebut dengan shahibul hajad .
Dengan pola inti serupa itulah nilai-nilai islam telah merasuki pelaksanaan upacra slametan dalam berbagai bentuknya. demikian juga Koentjaraningrat telah mengemukakan berbagai upacara yang dilakukan oleh orang jawa ( Geertz, 1981:13-18, Koentjaraningrat, 1984:343-366 ).

Berkaitan dengan lingkaran hidup terhadap berbagai jenis upacara, antara lain:
1.      Upacara tingkeban atau mitoni, dilakukan pada saat janin berusia tujuh bulan dalam perut ibu. Dalam tradisi santri, pada upacara tingkeban ini seperti yang dilakukan di daerah bagelendibacakan nyanyian perjanjen dengan alat musik tamburan kecil. nyanyian ini sesungguhnya merupakan riwayat Nabi Muhammad yang bersumber dari kitab Barzanji.
2.      Upacara kelahiran, dilakukan pada saat anak diberi nama dan pemotongan rambut ( bercukur ), pada waktu bayi berumur tujuh hari atau sepasar. Karena itu slametan pada upacara ini disebut upacara slametan nyepasari.dalam tradisi islam santri upacara ini disebut dengan korban aqiqah yang diucapkan dalam lidah jawa kekah, ditandai dengan penyembelehan hewan aqiqah berupa kambing dua ekor bagi anak laki-laki dan satu ekor kambing bagi anak perempuan.
3.      Upacara sunatan, dilakukan pada saat anak laki-laki dikhitan . pada masyarakat pelaksanaanya berbeda-beda  . ada yang melaksanakannya antara empat sampai delapan tahun, dan pada masyarakat lain dilaksanakan tatkala anak berusia 12 sampai 14 tahun. Karena itu sering kali sunatan disebut selam,sehingga mengkhitankan dikatakan nyelamaken , yang mengandung makna mengislamkan ( mengislamaken ).
4.      Upacara perkawinan, dilakukan pada saat pasangan muda-mudi akan memasuki jenjang berumah tangga. upacara ini ditandai secara khas dengan syari’ah islam yakni aqad nikah ( ijab qobul ) pada tahap aqad nikah dan tahap sesudah aqad nikah ( ngundhuh manten, resepsi pengantin ).pembukaan nduwe gawe ditandai dengan slametan nggelar klasa, dan pada saat mengakhirinya dilakukan slametan mbalik klasa.
5.      Upacara kematian, pada saat mempersiapkan penguburan orang mati yang ditandai dengan memandikan, mengkafani, dan pada akhirnya menguburkan .tiap malam hari setelah penguburan diadakan slametan mitung dina ( tujuh hari ), yaitu kirim doa dengan didahulukan bacaan tasybih, tahmid, takbir, tahlil, dan shalawat nabi yang secara keseluruan rangkaian bacaan itu disebut tahlilan. slametan yang sama dilakukan pada saat kematian itu sudah mencapai 40 hari ( matang puluh ), 100 hari ( nyatus ), satu tahun ( mendhak sepisan ), dua tahun ( mendhak pindo ), dan tiga tahun ( nyewu ).
Bentuk upacara lain, selain berkaitan dengan lingkaran hidup, terdapat pula upacara yang berkenaan dengan kekeramat bulan-bulan hijriyah seperti upacara Bakda Besar ,Suran, Mbubar Suran, Saparan, Dina wekasan mauludan, Jumadilawalan, Jumadilakhiran, Rejeban, Ngruwah, Maleman, Riyayan, Sawalan, Sela, dan Sedakah Haji.[4]

IV.             KESIMPULAN
Sejarah islam merupakan salah satu hasil perkembangan, perdebatan, dan interpresi yang konstan. Kalangan muslim meyakini muhammad sebagai utusan Allah dan menutup para nabi. Tradisi muslim bisa dengan sangat baik dipahami sebagai suatu perjuangan intelektual, spiritual, dan sosial untuk menemukan dan menerapkan makna pesanya. jauh dari merupakan suatu sistem ajaran dan ritual yang kaku, Di samping tradisi perdebatan dan keragaman ini, ada dua tradisi lain yang berupaya merestorasi versi ajaran dan praktik nabi “ asli “.

V.                PENUTUP
Sedikit ilmu yang saya sampaikan tentu saja tidak akan lengkap jika tidak ada refrensi lainnya, dengan keterbatasan waktu dan refrensi yang total, saya benar-benar minta maaf atas pembuatan makalah ini, Tentu saja akal dan hati saya siap menunggu perhatian anda berupa kritikan dan tulisan makalah yang saya buat, sekali lagi saya minta maaf yang sebesar-besar-NYA











                                  DAFTAR PUSTAKA

Mark.R.Woodward, Islam jawa kesalehan normatif versus kebatinan, cetakan IV ( Yogyakarta: LKS, 2008 )
Kodiron, Kebudayaan dalam manusia dan kebudayaan di Indonesia,penerbit Jambatan, Jakarta, 1976, hlm.322
Amin,M.Darori. 2000. Islam Dan Kebudayaan jawa, Yogyakarta; Gama Media. Hlm.130-133.


 


[1] Mark R. Woodward,islam jawa kesalehan normatif  versus kebatinan,Cetakan IV ( Yogyakarta: LKS,2008 )
[2] Kodiran, Kebudayaan jawa dalam Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, penerbit Jambatan, Jakarta , 1976,hlm.322
[3] Mark R. Woodward,islam jawa kesalehan normatif versus kebatinan,cetakan IV,( Yogyakarta,LKS, 2008 ) hlm.83-92
[4] Drs.H.M.Darori Amin,Islam dan budaya jawa,( Yogyakarta, Gama Media, 2000 ) hlm. 130-133

Tidak ada komentar:

Posting Komentar