Jumat, 28 Februari 2014



I.                   PENDAHULUAN
Sebagai manusia yang mempercayai Allah dengan keimanannya yang benar, maka mempelajari dirinya sendiri mengenahi sunnah-sunnah puasa dalam pembahasan yang diungkapkan dalam fiqih  adalah hal yang penting.
Selain daripada itu, memahami posisi sunnah-sunnah puasa sebagai apa yang di bumi ini dan bagaimana kedudukanya di hadapan Allah perlulah dimengerti secara mendalam. Maka dari itu makalah ini akan mencoba menjelaskan masalah demikian.
Bagaimana kita dapat memahami atau mampu melakukan sunnah-sunnah puasa di bawah ini.
II.                RUMUSAN MASALAH
A.     Pengertian puasa-puasa sunnah?
B.     Macam-macam puasa-puasa sunnah?
                                                      
III.             PEMBAHASAN
A.     Pengertian sunnah-sunnah puasa
Di samping ibadah puasa ramadhan yang diwajibkan, islam jg menganjurkan umatnya agar banyak-banyak melakukan puasa sunnah, sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah, menambah kebajikan dan meraih pahala. Pada dasarnya tidak ada penbatasan waktu untuk melakukan puasa sunnah. Orang dapat memilih sendiri waktu yang tepat baginya untuk berpuasa sesuai dengan keadaanya.
Akan tetapi, perlu diingat bahwa puasa, baik yang wjib maupun yang sunnah, haram dan tidak sah dilakukan pada hari-hari tertntu, yaitu, pada kedua hari raya’id al fitri dan ‘id al-adha serta pada hari-hari tasyriq, yakni tiga hari setelah ‘id al-adha, sebab Nabi saw. melarang puasa padanya.
Selain itu,  juga makruh berpuasa sehari saja, hanya pada hari jum’at atau hari sabtu, kecuali disertai dengan puasa pada hari sebelumnya atau sesudahnya.
Kecuali pada hari-hari tersebut di atas, sepanjang tahun, puasa sunnah dapat dan baik dilakukan, tetapi ada beberapa hari yang khusus kita anjurkan berpuasa padanya, sebagaimana yang akan dijelaskan pada uraian berikut.[1]
B.     Macam-macam sunnah puasa
1.      Puasa enam Hari pada Bulan Syawal
Setelah selasai melakukan puasa Ramadhan, disunnahkan pula mengiringinya dengan berpuasa 6 hari pada bulan Syawal.
Puasa pada bulan syawal dapat diperoleh walau berupa puasa qadla, nazar atau yang lainnya. Barang siapa yang puasa pada bulan syawal setelah lebih dahulu berpuasa Ramadhan, maka ia laksana berpuasa setahun lamanya sebagaimana menurut riwayat Abu Ayyub; “ Barang siapa puasa Ramadhan lalu melanjutkan dengan enam hari puasa syawal, maka puasanya berarti setahun lamanya.
2.      Puasa sehari pada hari Arafah
Untuk orang yang tidaksedang melakukan ibadah haji disunnahkan berpuasa pada hari Arafah ( 9 Zu al-hijjah ), berdasarkan hadits yang berasal dari Abu Qatadah,
Yang Artinya;
                      “ Rasulullah saw, dianya orang tentang puasa pada hari Arafah, beliau
                         Bersabda; ( puasa itu ) menghapuskan dosa setahun yang lalu
                         Dan setahun yang akan datang. ( HR. Muslim )
Sedangkan bagi orang yang ditengah beribadah haji tidak disunnahkan puasa pada hari Arafah, bahkan dianjurkan untuk tidak melakukannya walau kuat, agar dia leih mampu berdo’a dan mengikuti sunnah.
3.      Puasa Delapan ( 8 )
Hari pada bulan Dzulhijjah sebelum jatuh hari Arafah, baik bagi yang sedang beribadah haji atau yang lainnya seperti keterangan Hafsnah : “ Ada empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah; (1) puasa Asyura, puasa tanggal 10 Dzulhijjah, puasa tiga hari ada setiap bulan dan shalat dua rakaat menjelang subuh.
4.      Puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram
 yang sunnah dilaksanakan kedua duanya berdasarkan hadits riwayat Ibnu Abbas (marfu’) : “ Jika umurku sampai ke tahun depan, niscaya aku berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram”. Kedudukan puasa ini semakin ditegaskan oleh sabda Rasul bahwa puasa ‘ Asyura dinilai Allah menebus dosa setahun sebelumnya.[2]
5.      Puasa pada hari Senin dan Kamis
Karena Rasulullah saw. selalu berpuasa pada hari senin dan kamis maka umatnyapun disunnahkan berpuasa pada kedua hari tersebut.
Ada sebuah hadits yang berkenaan tentang puasa senin dan kamis yang Artinya:
“ Dari Abu Qatadah ra: Bahwasanya Rasulullah saw. ditanya orang tentang puasa pada hari senin, beliau menjawab, “ Hari itu adalah hari yang padanya aku dilahirkan, hari yang padanya aku dibangkitkan dan diturunkan wahyu kepadaku”. (HR. Muslim).[3]
6.      Puasa pada bulan-bulan haram
Yaitu sebanyak empat bulan secara berturut-turut; Dzulhijjah dan Muharram dan satu buan dilaksanakan secara mandiri yaitu bulan Rajab. Keempat bulan ini merupakan bulan yang sangat utama bagi puasa setelah Ramadhan. Dan sebaik baiknya bulan Muharram, Rajab, yang lainnya serta bulan Sya’ban.
Malikiyah hanya menganjurkan puasa pada bulan-buan tersebut termasuk oleh Syafi’iyah. Sedangkan Hanabilah menganjurkan hanya pada bulan Muharram saja sebagai ibadah puasa terbaik setelah Ramadhan.
7.      Puasa pada bulan Sya’ban
Berdasarkan hadits Ummu Salamah bahwa nabi dalam satu tahun tidak pernah puasa sebulan penuh kecuali pada bulan  Sya’ban yang dilanjutkan dengan puasa . Ramadhan. Aisyah mengatakan, Nabi tidak pernah berpuasa (sunnah) lebih lama kecuali pada bulan Sya’ban yang dilakukanya secara penuh.
Sekelomokorang memandang makruh puasa pada pertengahn bulan Sya’ban ( nisfu sya’ban ) terakhir. Al- syafi’iyah berpendapat, berpuasa dari pertengahan bulan Sya’ban tidak sah berdasarkan hadits berikut:
“ Apabila bulan Sya’ban telah memasuki pertengahnnya, janganlah kalian berpuasa”.[4]
IV.              KESIMPULAN
Manusia merupakan makhluk Allah yang sempurna diciptakan paling sempurna.
Kesempurnaan itu didukung dengan diberikanya akal dan pikiran sebagai pembeda utama dari makhluk lainnya.
Manusia memiliki tanggung jawab yang sangat besar berupa amanat yang dia kerjakan.Yaitu berupa perintah untuk menjalankan sunnah-sunnah puasa dengan benar.Maksudnya menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangannya.
Ada beberapa macam-macan sunnah-sunnah puasa yang dikerjakan yaitu:
a.       Puasa enam Hari pada Bulan Syawal
b.      Puasa sehari pada hari Arafah
c.       Puasa Delapan ( 8 )
d.      Puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram
e.       Puasa pada hari Senin dan Kamis
f.        Puasa pada bulan-bulan haram
g.       Puasa pada bulan Sya’ban


V.                 PENUTUP

Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna,Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca.
Dan sebelum penulis menutup makalah ini penulis ingn memohom maaf yang sebar- besarnya apabila ada yang berkurang dari penyusunan makalah ini.
Akhirnya, segala puji bagi Allah saw yang telah mencurahkan rahmat-Nya dan menerangkan pikiran-pikiran sehingga penulis dapat menyelasaikan makalah ini.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada nabi Muhammad SAW sebagai rasa terima kasih penulis atas segala petunjuk-Nya. Sebagai penutup penulis sungguh sangat berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.



























DAFTAR PUSTAKA
Dr. Zuhaily, al Wahbah. Al-Fiqhul Islamy Wa Adillatuhu. Bandung, C.V.Pustaka Media Utama, 2006
Drs. Nasition, Lahmuddin, M.ag. FIQIH 1.Tth



[1] Drs, Lahmuddin Nasition, M.AG, Fiqih 1. hlm.200
[2] Dr. Wahbah Zuhaily, Al-Fiqhul Islamy Wa Adillatuhu. (Bandung, C.V. pustaka Media Utama,pertama, juli 2006).hlm.23-26
[3] Ibid, Fiqih 1. Hlm. 204
[4] Ibid,Al-fiqhul  islamy wa adillutuhu.hlm.24-26

Tidak ada komentar:

Posting Komentar