I.
PENDAHULUAN
Alquran dan al-sunah merupakan dua sumber utama
dalam pemikiran hukum islam.Apabila di dalam alquran ditemukan ketentuan hukum
yang jelas,maka hukum itulah yang harus diambil.Namun bila tidak ditemukan
didalamnya,maka dicari dalam al-sunah.jika didalam keduanya tidak terdapat
ketentuan hokum,atau hanya disinggung secara samar,maka pencarian hukumnya
melalui ijtihad atau ra’y.pemakaian
ketiga sumber tersebut harus diaplikasikan secara urut,Artinya,selama didalam
alquran telah ditemukan rumusan hukum yang jelas,maka tidak diperbolehkan
mencarinya baik di dalam al-sunah maupun melalui ijtihad.Demikian juga,bila
al-sunah telah menunjuk pada ketentuan hukum yang jelas,pemakaian ijtihad
tidaklah diperoleh.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Pengertian ijtihad
B.
Macam-macam ijtihad
C.
Syarat-syarat ijtihad
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian ijtihad
Ijtihad
berasal dari kata ijtahada yang artinya
ialah bersungguh-sungguh,giat,rajin. Sedang apabila kita meneliti makna kata
ja-hada artinya ialah mencurahkan segala kemampuan, jadi dengan demikian
menurut bahasa ijtihad adalah berusaha atau berupaya dengan sungguh-sungguh.[1]
Sedangkan pengertian ijtihad secara etimologis adalah suatu
kemampuan,kesanggupan,dan kerja keras untuk mendapatkan sesuatu.[2]
Menurut
imam al-ghozali yang diikuti juga oleh kholdhowi mendefinisikan ijtihad itu
dengan “ usaha sungguh-sungguh dari seorang
mujtahid dengan sungguh-sungguh di dalam rangka mengetahui atau
menetapkan tenteng hukum-hukum syari’ah.[3]
B.
Macam-macan ijtihad
Ijtihad
di bagi menjadi 3 macam
1.
Al-Ijtihadul Bay aniy,yaitu
menjelaskan ( bayan) hukum syar’iyah
dari nash-nash syari’ ( yang member syari’at yang menentukan syari’at ).
2.
Al-Ijtihadul qiyasiy,yaitu
meletakkan ( wadl’an ) hukum-hukum syar’iyah untuk kejadian-kejadian/peristiwa-peristiwa
yang tidak dapat di dalam al-kitab dan al-sunah ,dengan jalan menggunakan qias
atas ap yang terdapat di dalam nash-nash hukum syar’i.
3.
Al-Ijtihadul ish
thishlahiy,inipun juga meletakkan ( wadl’an )hukum-hukum syar’iyah,untuk
peristiwa yang terjadi,yang untuk itu tidak terdapat di dalam al-kitab dan
al-sunah ,dengan memperguna ar-ro’yu yang di sandarkan atas ish thishlah.
Tetapi Ustadz Muhamad Taqiyyalhakim mengatakan, pembagian
menurut logika tidak meliputi segala mqacam tentang yang ad,sebab ia tidak mencakup ijtihad istihsaniy dan lain-lain yang
menjadi pegangan para fuqoha’.
Dan disamping itu qiyas itu sendiri tidak
keseluruhannya selalu menjadi bagian dari ijtihad bayaniy.Demikian pula
membedakan antara jalan ‘penjelasan’ ( bayan ) untuk yang pertama ,sedang yang
kedua dan ketiga dengan ‘meletakkan’ (wadl’an ).ini keluar dari ijma’ kaum
muslimin.
Ustad
Hakim membaginya kepada ijtihad ‘aqliy dan ijtihad syar’iy. ‘Aqliyah adalah apabila hujjah-hujjahnya mantap itu,melulu ‘aqal saja dan
tidak menerima untuk di jadikan
syar’iy,yaitu hal-hal yang semata –mata ‘aqliy,aturan yang biasanya untuk
menolak kemadlaratan dan lain-lain.Sedang yang syar’iy ialah yang menjadikan
kehujjahannya itu sebagian dari hujjah sya’iy,dan dalam kelompok ini termasuklah
ijma’, qiyas,istihsan,ishtishalah,’urf,istishhad,dan lain-lain.
Imam
Asyafi’i memadakan ijtihad itu dengan makna istimbat atas qiyas terhadap suatu
perkara yang terdapat dalam Al-kitab dan As-sunah.
C.
Syarat-syarat ijtihad
Imam
ghozali didalam kitabnya al-Mustashfa ( II/ 102 ) menyatakan syarat-syarat
seorang mujtahid yang berijtihad adalah:
1.
Mengetahui dan menguasai ilmu
ayara’,mampu mendahulukan ap yang wajib didahulukan dan membelakangkan apa yang
mesti dikemudiankan.
2.
Ia hendaknya seorang yang adil .Menjahui
segala maksiat yang mencemarkan sifat dan sikap keadilan untuk menjadi landasan
apakah fatwanya dapat menjadikan pegangan atau tidak.
Menurut
Asy-Syathibiy ( al- Muafaqot IV / 1085-106 ) ialah :
1.
Mengerti dan faham akan
tujuan-tujuan syariat dengan sepenuhnya.
2.
Mampu melakukan istimbat
berdasarkan faham dan pengertiannya terhadap tujuan-tujuan syariat tersebut.
Secara
umum syarat-syarat seseorang yang ingin berijtihad ialah:
1.
Mengetahui Al-qur’an dan
As-Sunah. Jika tidak mengetahui salah satunya, maka ia tidak mujtahid dan tidak
boleh ijtihad.
2.
Mengetahui masalh ijma’ dam
masalah-masalah yang ditetapkan hukumnya melalui ijma’,karna dilarang
mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan ijma’.
3.
Mengetahui bahasa arab sebagai
dasar memahami Al-qur’an dan As-sunah.mujtahid juga mengetahui lafadz-lafadz
yang dhohir,mujmal,mutlak,muqoyat,amkhas,dan lain-lain. Semua itu perlu untuk
memahami Al-qur’an dan As-sunah.
4.
Mengetahui ilmu ushul
fiqh,karna ilmu itu menjadi dasar ijma’.
5.
Mengetahui Nasikh dan Mansukh
karena tidak boleh mengeluarkan hukum berdasarkan dalil mansukh.
6.
Mengetahui kemaslahatan
berdasarkan pertimbangan akal sehat.
IV.
KESIMPULAN
1.
Ijtihat adalah usaha yang
sungguh-sungguh dari seorang mujtahid dalam menetapkan satu hukum syari’ah.
2.
Macam-macam ijtihad
a.
Al-Ijtihadul Bayaniy
b.
Al-Ijtihadul qiyasiy
c.
Al-Ijtihadul ishthishlahiy.
3.
Syarat-syarat Ijtihad
a.
Mengetahui Al-qur’an dan
As-sunah
b.
Mengetahui masalah ijma’
c.
Mengetahui bahasa arab
d.
Mengetahui ushul fiqh
e.
Mengetahui Nasikh dan Mansukh
f.
Mengetahui kemaslahatan
berdasarkan pertimbangan akal sehat
V.
PENUTUP
Demikian
makalah yang saya paparkan, apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan, mohon kritik saran yang
membangun agar makalah ini kedepannya lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar