Jumat, 28 Februari 2014

ijthd




I.                   PENDAHULUAN
Alquran dan al-sunah merupakan dua sumber utama dalam pemikiran hukum islam.Apabila di dalam alquran ditemukan ketentuan hukum yang jelas,maka hukum itulah yang harus diambil.Namun bila tidak ditemukan didalamnya,maka dicari dalam al-sunah.jika didalam keduanya tidak terdapat ketentuan hokum,atau hanya disinggung secara samar,maka pencarian hukumnya melalui ijtihad  atau ra’y.pemakaian ketiga sumber tersebut harus diaplikasikan secara urut,Artinya,selama didalam alquran telah ditemukan rumusan hukum yang jelas,maka tidak diperbolehkan mencarinya baik di dalam al-sunah maupun melalui ijtihad.Demikian juga,bila al-sunah telah menunjuk pada ketentuan hukum yang jelas,pemakaian ijtihad tidaklah diperoleh.

II.                RUMUSAN  MASALAH
A.    Pengertian  ijtihad
B.     Macam-macam ijtihad
C.     Syarat-syarat ijtihad

III.             PEMBAHASAN
A.    Pengertian  ijtihad
Ijtihad berasal dari kata ijtahada  yang artinya ialah bersungguh-sungguh,giat,rajin. Sedang apabila kita meneliti makna kata ja-hada artinya ialah mencurahkan segala kemampuan, jadi dengan demikian menurut bahasa ijtihad adalah berusaha atau berupaya dengan sungguh-sungguh.[1] Sedangkan pengertian ijtihad secara etimologis adalah suatu kemampuan,kesanggupan,dan kerja keras untuk mendapatkan sesuatu.[2]
Menurut imam al-ghozali yang diikuti juga oleh kholdhowi mendefinisikan ijtihad itu dengan “ usaha sungguh-sungguh dari seorang  mujtahid dengan sungguh-sungguh di dalam rangka mengetahui atau menetapkan tenteng hukum-hukum syari’ah.[3]
B.     Macam-macan ijtihad
Ijtihad di bagi menjadi 3 macam
1.      Al-Ijtihadul Bay aniy,yaitu menjelaskan ( bayan) hukum syar’iyah  dari nash-nash syari’ ( yang member syari’at yang menentukan syari’at ).
2.      Al-Ijtihadul qiyasiy,yaitu meletakkan ( wadl’an ) hukum-hukum syar’iyah untuk kejadian-kejadian/peristiwa-peristiwa yang tidak dapat di dalam al-kitab dan al-sunah ,dengan jalan menggunakan qias atas ap yang terdapat di dalam nash-nash hukum syar’i.
3.      Al-Ijtihadul ish thishlahiy,inipun juga meletakkan ( wadl’an )hukum-hukum syar’iyah,untuk peristiwa yang terjadi,yang untuk itu tidak terdapat di dalam al-kitab dan al-sunah ,dengan memperguna ar-ro’yu yang di sandarkan atas ish thishlah.
   Tetapi Ustadz  Muhamad Taqiyyalhakim mengatakan, pembagian menurut logika tidak meliputi segala mqacam tentang yang ad,sebab ia tidak  mencakup ijtihad istihsaniy dan lain-lain yang menjadi pegangan para fuqoha’.
Dan  disamping itu qiyas itu sendiri tidak keseluruhannya selalu menjadi bagian dari ijtihad bayaniy.Demikian pula membedakan antara jalan ‘penjelasan’ ( bayan ) untuk yang pertama ,sedang yang kedua dan ketiga dengan ‘meletakkan’ (wadl’an ).ini keluar dari ijma’ kaum muslimin.
Ustad Hakim membaginya kepada ijtihad ‘aqliy dan ijtihad syar’iy. ‘Aqliyah adalah apabila hujjah-hujjahnya mantap itu,melulu ‘aqal saja dan tidak menerima untuk  di jadikan syar’iy,yaitu hal-hal yang semata –mata ‘aqliy,aturan yang biasanya untuk menolak kemadlaratan dan lain-lain.Sedang yang syar’iy ialah yang  menjadikan  kehujjahannya itu sebagian dari hujjah sya’iy,dan dalam kelompok ini termasuklah ijma’, qiyas,istihsan,ishtishalah,’urf,istishhad,dan lain-lain.
Imam Asyafi’i memadakan ijtihad itu dengan makna istimbat atas qiyas terhadap suatu perkara yang terdapat dalam Al-kitab dan As-sunah.
C.     Syarat-syarat ijtihad
Imam ghozali didalam kitabnya al-Mustashfa ( II/ 102 ) menyatakan syarat-syarat seorang mujtahid yang berijtihad adalah:
1.      Mengetahui dan menguasai ilmu ayara’,mampu mendahulukan ap yang wajib didahulukan dan membelakangkan apa yang mesti dikemudiankan.
2.      Ia hendaknya seorang yang adil .Menjahui segala maksiat yang mencemarkan sifat dan sikap keadilan untuk menjadi landasan apakah fatwanya dapat menjadikan pegangan atau tidak.
Menurut Asy-Syathibiy ( al- Muafaqot IV / 1085-106 ) ialah :
1.      Mengerti dan faham akan tujuan-tujuan syariat dengan sepenuhnya.
2.      Mampu melakukan istimbat berdasarkan faham dan pengertiannya terhadap tujuan-tujuan syariat tersebut.
Secara umum syarat-syarat seseorang yang ingin berijtihad ialah:
1.      Mengetahui Al-qur’an dan As-Sunah. Jika tidak mengetahui salah satunya, maka ia tidak mujtahid dan tidak boleh ijtihad.
2.      Mengetahui masalh ijma’ dam masalah-masalah yang ditetapkan hukumnya melalui ijma’,karna dilarang mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan ijma’.
3.      Mengetahui bahasa arab sebagai dasar memahami Al-qur’an dan As-sunah.mujtahid juga mengetahui lafadz-lafadz yang dhohir,mujmal,mutlak,muqoyat,amkhas,dan lain-lain. Semua itu perlu untuk memahami Al-qur’an dan As-sunah.
4.      Mengetahui ilmu ushul fiqh,karna ilmu itu menjadi dasar ijma’.
5.      Mengetahui Nasikh dan Mansukh karena tidak boleh mengeluarkan hukum berdasarkan dalil mansukh.
6.      Mengetahui kemaslahatan berdasarkan pertimbangan akal sehat.

IV.             KESIMPULAN
1.      Ijtihat adalah usaha yang sungguh-sungguh dari seorang mujtahid dalam menetapkan satu hukum syari’ah.
2.      Macam-macam ijtihad
a.       Al-Ijtihadul Bayaniy
b.      Al-Ijtihadul qiyasiy
c.       Al-Ijtihadul ishthishlahiy.
3.      Syarat-syarat Ijtihad
a.       Mengetahui Al-qur’an dan As-sunah
b.      Mengetahui masalah ijma’
c.       Mengetahui bahasa arab
d.      Mengetahui ushul fiqh
e.       Mengetahui Nasikh dan Mansukh
f.       Mengetahui kemaslahatan berdasarkan pertimbangan akal sehat

V.                PENUTUP
Demikian makalah yang saya paparkan, apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan, mohon kritik saran yang membangun agar makalah ini kedepannya lebih baik.


[1] H.A.Mu’in Umar.dkk.ushul fiqh II. ( Jakarta : IAIN Jakarta,1986), hlm.111
[2] A.qodri Azizy,M.A Dekonstruksi dan Reksonstruksi Hukum Islam. (semarang: gama media,2002), hlm.176
[3] H.A Mu’in Umar dkk, op.cit,hlm.111-118

Tidak ada komentar:

Posting Komentar