Jumat, 31 Oktober 2014

impian mengendarai kuda terbang


Impian Mengendarai Kuda Terbanng
oleh: ryan idea
“To kamu ngapain disitu sendirian, udah jam tujuh lho!!”
“Lagi nunggu andong, Fir. Dari tadi gak datang-datang”
“Naik bis aja sini bareng sama Aku”
“Nggak.., Aku lagi pengen naik andong”
“Kalau gitu Aku duluan ya, bisnya udah datang nih”
Aku pun berlalu meninggalkan si Anto yang sedang mnunggu andong langganannya. Anto memang sangat senang menaiki kereta kuda. Dia sering tersenyum gembira saat melihat ada andong lewat didepannya. Dulu sebenarnya si Anto sangat takut dengan kuda, entah karena apa dia takut dengan kuda, padahal Pamannya yang kebetulan tinggal di samping rumahnya juga memelihara seekor kuda. Setelah beberapa lama diaasuh oleh Pamannya ia mulai terbiasa. Namun hidupnya dulu sangat bergantung pada kuda itu. Tanpa kuda itu mungkin dia tidak akan bias hidup hingga saat ini.
Dulu Anto seorang anak yang riang, senag bercanda dan suka bercerita tentang hal yang lucu. Ada sebuah cerita yang paling saya ingat dan paling mengenang. Suatu hari saat pertama kali masuk sekolah, dia langsung masuk kelas sendirian tidak seperti siswa lain yang masih diantarkan orang tua nya bahkan saya juga masih ditemani orang tua. Ketika perkenalan, dia maju kedepan tanpa rasa malu sedikitpun. Namun saat didepan entah kenapa dia cuma terdiam, taklama kemudian celananya terlihat basah. Hal yang memalukan itu selalu terbayang dalam pikiranku, ya karena baru kusadari belakangan ini bahwa hal itu sangat aneh. Dengan wajah yang tegap kedepan sikap yang gagah ternyata disitu terdapat sebuah ketakutan. Jam kecil di dashboard mobil bus menunjukkan pukul tujuh tepat, kelihatannya kali ini aku akan telat lagi. Si Anto pasti akan lebih terlambat karena kulihat tadi dia belum berangkat juga, ditambah lagi perjalanan sedang macet.
Biasanya jam segini aku dan Anto sudah berada disekolah. Walau aku duduk di belakangnya, tapi kami jarang berbincang ketika dikelas. Kejadian ini sudah berlangsung lama semenjak ia diasuh oleh Paman Hadi setelah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Ia menjadi pendiam juga sering melamun. Sejak itu ia sering kali jatuh sakit, puskesmas menjadi tempat yang sering dikunjungi. Baru satu tahun kemudian diketahui bahwa ia tertular penyakit mematikan, si Anto tertular penyakit AIDS  dari orang tuanya. Ketika masih kelas tiga SD setelah tiba-tiba ia taksadarkan diri saat upacara, setelah sadar ia diijinkan untuk pulang kerumah. Kebetulan aku yang mengantarkannya pulang, saat dirumah ia jatuh pingsan kembali semua orang yang ada disana mulai panik karena Anto kejang-kejang dengan mata yang melotot semakin membuat panik. Paman Hadi langsung pergi kejalan untuk mencari angkutan. Ia mondar mandir dengan wajah yang pucat namun tidak ada kendaraan yang lewat pada saat itu. Karena kereta utuk kudanya sedang diperbaiki di luar akhirnya paman memutuskan untuk membawa Anto dengan menunggangi kuda peliharaannya ke rumah sakit, setelah beberapa hari disana, dokter mendiaknosa ia terkena virus HIV.
Setelah pulang dari rumah sakit ia semakin murung karena dijauhi oleh teman-temannya, alasannya sama karena tidak ingin tertular. Suatu ketika Anto bercerita padaku. “Sebenarnya apa salahku kenapa merka semua jahat padaku, apa karena penyakitku ini?” dengan muka yang memelas hal itu ditanyakan padaku. Mendengar pertanyaan itu aku jadi merasa bersalah karna aku sebenarnya juga sering menghindar darinya dan pertanyaan tersebut tak kujawab bahkan hingga saat ini.
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan kearah hal yang membuatnya senang. “tidak kok, mereka semua baik dengan mu. Mungkin itu hanya perasaan mu saja. Oh ya dulu kamu kan takut sama kuda kenapa sekarang kamu sudah tidak takut sama kuda lagi?”  pertanyaan ini kelihatannya membuatnnya lebih tenang.
“aku sering melihat di buku cerita tentang kehebatan dan kegagahan kuda terbang. Aku merasa senang ketika ada kuda yang lewat. Aku berharap bisa bertemu dengan kuda terbang”.
Dengan rasa bingung dan terkejut aku menanggapinya “kuda terbang!!  Bukannya itu hanya hayalan saja tidak munngkin ada kuda terbang”.
“ku yakin kuda terbang itu pasti ada. Suatu saat nanti aku beharap bisa menaikinya dan terbang menuju ke bulan” kelihatannya Anto bersungguh-sungguh dengan keinginannya ini.
Waduh udah jam setengah delapan, aku masih terjebak di palang pintu lintasan kereta api. Kalu begini aku bisa dimarahi pak Khasan guru IPS. Lima menit berlalu pintu perlintasan kereta api mulai terbuka, namun tak ada satu kereta pun yang lewat. Kendaraan yang aku tumpangi langsung melaju meninggalkan perlintasan walau dengan perlahan karena macet.
GUBBRRAAKKK!!! Dari belakang terdengar suara yang keras. Nampaknya di belakang sedang terjadi kecelakaan. Tanpa menghiraukannya mobil yang aku tumpangi tetap melaju, tapi aku tetap penasaran terhadap suara tadi. Sesampai di sekolah aku langsung masuk ke kelas, namun aku harus berdiri di depan kelas untuk bisa mengikuti pelajaran.
Hingga pelajaran IPS selesai aku tidak melihat si Anto padahal tadi aku melihatnya menunggu andong untuk berangkat sekolah. Mungkin dia tidak jadi berangkat ke sekolah karena sudah terlambat.
Setelah pulang sekolah aku sangat penasaran dengan suara tadi.” Apa sebenarnya yang terjadi” ku lihat ada banyak bercak darah di sekitar perlintasan. Sesampai di rumah aku terkejut kenapa dirumah paman Hadi ada banyak orang. Lalu ku coba mendekati kerumunan orang dan bertanya. Kebetulan bapakku sedang ada disana “Pak disini sedang ada apa?”.
 “Anto meninggal dunia, kami sedanng menunggun jenazahnya”
“App.. app pa, Anto meninggal... bukannya tadi dia….. Anto meniggal karena penyakitnya?”
“Tidak. Dia kecelakaan tertabrak kereta api saat naik andong, kuda, kusir dan semua penumpang tidak ada yang selamat”

Ternyata kecelakaan tadi pagi itu kereta api yang menabrak kereta kuda. Anto juga berhasil bertahan dan tidak kalah karena penyakit yang dideritanya. Anto mungkin sudah tenang di alam sana terbang mengendarai kuda menemui kedua orangtuanya. Dia sudah berhasil mewujudkan impiannya. Selamat jalan Anto semoga kamu diterima di sisi-Nya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar