Impian
Mengendarai Kuda Terbanng
oleh: ryan idea
“To
kamu ngapain disitu sendirian, udah jam tujuh lho!!”
“Lagi
nunggu andong, Fir. Dari tadi gak datang-datang”
“Naik
bis aja sini bareng sama Aku”
“Nggak..,
Aku lagi pengen naik andong”
“Kalau
gitu Aku duluan ya, bisnya udah datang nih”
Aku
pun berlalu meninggalkan si Anto yang sedang mnunggu andong langganannya. Anto
memang sangat senang menaiki kereta kuda. Dia sering tersenyum gembira saat
melihat ada andong lewat didepannya. Dulu sebenarnya si Anto sangat takut
dengan kuda, entah karena apa dia takut dengan kuda, padahal Pamannya yang
kebetulan tinggal di samping rumahnya juga memelihara seekor kuda. Setelah
beberapa lama diaasuh oleh Pamannya ia mulai terbiasa. Namun hidupnya dulu
sangat bergantung pada kuda itu. Tanpa kuda itu mungkin dia tidak akan bias
hidup hingga saat ini.
Dulu
Anto seorang anak yang riang, senag bercanda dan suka bercerita tentang hal
yang lucu. Ada sebuah cerita yang paling saya ingat dan paling mengenang. Suatu
hari saat pertama kali masuk sekolah, dia langsung masuk kelas sendirian tidak
seperti siswa lain yang masih diantarkan orang tua nya bahkan saya juga masih
ditemani orang tua. Ketika perkenalan, dia maju kedepan tanpa rasa malu
sedikitpun. Namun saat didepan entah kenapa dia cuma terdiam, taklama kemudian celananya
terlihat basah. Hal yang memalukan itu selalu terbayang dalam pikiranku, ya
karena baru kusadari belakangan ini bahwa hal itu sangat aneh. Dengan wajah
yang tegap kedepan sikap yang gagah ternyata disitu terdapat sebuah ketakutan.
Jam kecil di dashboard mobil bus menunjukkan pukul tujuh tepat, kelihatannya
kali ini aku akan telat lagi. Si Anto pasti akan lebih terlambat karena kulihat
tadi dia belum berangkat juga, ditambah lagi perjalanan sedang macet.
Biasanya
jam segini aku dan Anto sudah berada disekolah. Walau aku duduk di belakangnya,
tapi kami jarang berbincang ketika dikelas. Kejadian ini sudah berlangsung lama
semenjak ia diasuh oleh Paman Hadi setelah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.
Ia menjadi pendiam juga sering melamun. Sejak itu ia sering kali jatuh sakit,
puskesmas menjadi tempat yang sering dikunjungi. Baru satu tahun kemudian
diketahui bahwa ia tertular penyakit mematikan, si Anto tertular penyakit
AIDS dari orang tuanya. Ketika masih
kelas tiga SD setelah tiba-tiba ia taksadarkan diri saat upacara, setelah sadar
ia diijinkan untuk pulang kerumah. Kebetulan aku yang mengantarkannya pulang,
saat dirumah ia jatuh pingsan kembali semua orang yang ada disana mulai panik
karena Anto kejang-kejang dengan mata yang melotot semakin membuat panik. Paman
Hadi langsung pergi kejalan untuk mencari angkutan. Ia mondar mandir dengan
wajah yang pucat namun tidak ada kendaraan yang lewat pada saat itu. Karena
kereta utuk kudanya sedang diperbaiki di luar akhirnya paman memutuskan untuk
membawa Anto dengan menunggangi kuda peliharaannya ke rumah sakit, setelah
beberapa hari disana, dokter mendiaknosa ia terkena virus HIV.
Setelah
pulang dari rumah sakit ia semakin murung karena dijauhi oleh teman-temannya,
alasannya sama karena tidak ingin tertular. Suatu ketika Anto bercerita padaku.
“Sebenarnya apa salahku kenapa merka semua jahat padaku, apa karena penyakitku
ini?” dengan muka yang memelas hal itu ditanyakan padaku. Mendengar pertanyaan
itu aku jadi merasa bersalah karna aku sebenarnya juga sering menghindar
darinya dan pertanyaan tersebut tak kujawab bahkan hingga saat ini.
Aku
mencoba mengalihkan pembicaraan kearah hal yang membuatnya senang. “tidak kok,
mereka semua baik dengan mu. Mungkin itu hanya perasaan mu saja. Oh ya dulu
kamu kan takut sama kuda kenapa sekarang kamu sudah tidak takut sama kuda lagi?” pertanyaan ini kelihatannya membuatnnya lebih
tenang.
“aku
sering melihat di buku cerita tentang kehebatan dan kegagahan kuda terbang. Aku
merasa senang ketika ada kuda yang lewat. Aku berharap bisa bertemu dengan kuda
terbang”.
Dengan
rasa bingung dan terkejut aku menanggapinya “kuda terbang!! Bukannya itu hanya hayalan saja tidak
munngkin ada kuda terbang”.
“ku
yakin kuda terbang itu pasti ada. Suatu saat nanti aku beharap bisa menaikinya
dan terbang menuju ke bulan” kelihatannya Anto bersungguh-sungguh dengan
keinginannya ini.
Waduh
udah jam setengah delapan, aku masih terjebak di palang pintu lintasan kereta
api. Kalu begini aku bisa dimarahi pak Khasan guru IPS. Lima menit berlalu
pintu perlintasan kereta api mulai terbuka, namun tak ada satu kereta pun yang
lewat. Kendaraan yang aku tumpangi langsung melaju meninggalkan perlintasan
walau dengan perlahan karena macet.
GUBBRRAAKKK!!!
Dari belakang terdengar suara yang keras. Nampaknya di belakang sedang terjadi
kecelakaan. Tanpa menghiraukannya mobil yang aku tumpangi tetap melaju, tapi
aku tetap penasaran terhadap suara tadi. Sesampai di sekolah aku langsung masuk
ke kelas, namun aku harus berdiri di depan kelas untuk bisa mengikuti
pelajaran.
Hingga
pelajaran IPS selesai aku tidak melihat si Anto padahal tadi aku melihatnya
menunggu andong untuk berangkat sekolah. Mungkin dia tidak jadi berangkat ke
sekolah karena sudah terlambat.
Setelah
pulang sekolah aku sangat penasaran dengan suara tadi.” Apa sebenarnya yang
terjadi” ku lihat ada banyak bercak darah di sekitar perlintasan. Sesampai di
rumah aku terkejut kenapa dirumah paman Hadi ada banyak orang. Lalu ku coba
mendekati kerumunan orang dan bertanya. Kebetulan bapakku sedang ada disana “Pak
disini sedang ada apa?”.
“Anto meninggal dunia, kami sedanng menunggun
jenazahnya”
“App..
app pa, Anto meninggal... bukannya tadi dia….. Anto meniggal karena
penyakitnya?”
“Tidak.
Dia kecelakaan tertabrak kereta api saat naik andong, kuda, kusir dan semua
penumpang tidak ada yang selamat”
Ternyata
kecelakaan tadi pagi itu kereta api yang menabrak kereta kuda. Anto juga
berhasil bertahan dan tidak kalah karena penyakit yang dideritanya. Anto mungkin
sudah tenang di alam sana terbang mengendarai kuda menemui kedua orangtuanya. Dia
sudah berhasil mewujudkan impiannya. Selamat jalan Anto semoga kamu diterima di
sisi-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar